REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Badan intelijen pelindung konstitusi Jerman, Verfassungsschutz, menjalankan misi pengawasan di dalam masjid selama satu dekade terakhir. Skandal itu terungkap dari temuan Partai Hijau Jerman.
"Umat Islam dianggap berbahaya. Mereka dikejar karena menghadiri shalat Jumat, dan tidak melakukan kekerasan apapun," ucap Belit Onat, anggota parlemen dari Partai Hijau, seperti dilansir Anadolu News Agency, Senin (26/5).
Menurut Onay, yang keturunan Turki, skandal ini telah memantau 100 Muslim di Lower Saxony selama 10 tahun. Mereka, badan intelijen Jerman, menargetkan pihak yang sayangnya tidak terlibat atas hal yang ilegal. "Kami berupaya melakukan reformasi di badan tersebut. Kami mengetahui informasi ini setelah menemukan catatan yang berisi 9 ribu nama," kata Onay.
Ia mengungkap nama-nama tersebut diawasi karena kegiatan ilegal mereka terhadap konstitusi, dan ada upaya dari para target untuk meneyrang konstitusi. "Sayangnya, 20 persen dari catatan ini tidak memiliki dasar hukum yang kuat," kata dia.
Onay mengungkap kebijakan pengawasan ini diterapkan ketika Partai Uni Demokratik Kirsten dan Partai Demokrat Liberal berkuasa. Onay mengaku, pihak oposisi akan menyelidik skandal ini guna mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas operasi tersebut..
"Kami akan melakukan reformasi guna menghentikan kebijakan macam ini dan mengubah UU tentang Badan Intelijen dan Kantor Perlindungan Konstitusi," ucapnya.




