Ahad 02 Mar 2014 05:50 WIB

Umat Berkarakter Alquran

Anak-anak membaca alquran.  (ilustrasI)
Foto: Republika/Edi Yusuf
Anak-anak membaca alquran. (ilustrasI)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ratna Ajeng Tejomukti

Umat berkarakter Alquran memiliki akal yang cerdas, hati yang ikhlas dengan perbuatan yang berkualitas.

Alquran harus menjadi acuan sikap dan langkah setiap Muslim. Namun saat ini tak jarang Alquran hanya dijadikan pajangan, sesekali hanya untuk mahar pernikahan. Umat Islam dirasa jauh dari umat yang berkarakter Alquran.

Umat berkarakter Alquran adalah umat yang mengikuti keteladanan Rasulullah SAW. Mereka memiliki jati diri dengan menjaga sikap dan perilakunya.

Pembina Al Faith Kaffah Nusantara (AFKN) Ustaz M Zaaf Fadzlan Rabbani Al Gharamatan mengatakan umat yang berkarakter Alquran adalah hidupnya selalu memiliki arti bagi orang lain. Meskipun orang tidak suka pada dirinya.

“Umat yang berkarakter qurani harus memiliki pemahaman Islam yang benar,” ujar dai yang lebih banyak berdakwah di kota Kelahirannya Papua. Kedua, selalu memiliki prasangka baik terhadap Islam sebagai agamanya.

Ketiga, umat Islam harus mampu menjadikan dakwah Islam sebagai pekerjaan yang bergengsi di hadapan Allah SWT. Keempat, umat Islam harus menjadi orang besar di hadapan Allah SWT.

Memiliki karakter Alquran adalah dengan melakukan perintah Allah SWT. “Lakukan apa yang diperintahkan oleh Allah yang Maha Besar nanti Allah membelimu dengan nilai yang sangat mahal,” ujarnya.

Ustaz Fadzlan mencontohkan orang yang bekerja harus bersyukur dengan rezeki yang diterima sesuai dengan jerih payahnya.

“Jangan sampai korupsi atau mengambil hak orang lain yang menjauhkan diri dari apa yang ada dalam nilai-nilai Alquran,” ujarnya.

Umat yang berkarakter Alquran tentu akan selalu merindukan Allah SWT. Rindu dengan Allah SWT artinya melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Allah SWT.

Mereka bekerja dengan damai dan tidak melihat dunia dengan nilai. Umat Islam di Indonesia memang saat ini belum memiliki karakter qurani.

“Miris sekali melihat banyak orang yang menunaikan ibadah haji, tetapi membaca Alquran dengan fasih dan benar pun belum bisa,”ujarnya. Menyadari masalah itu semua, Ustaz Fadzlan pun mengajak umat untuk memperbaiki bersama-sama dan tidak perlu menuding kesalahan pada siapapun.

Direktur Lembaga Pengkajian dan Penerapan Tauhid Unida Bogor Dr Amir Mahruddin mengatakan berkarakter Alquran berarti mengintergrasikan sikap, pengetahuan dan perbuatan berdasarkan nilai-nilai dalam Alquran.

Umat yang berkarakter qurani, kata Amir, berarti sikap, pengetahuan dan perbuatannya mengikuti tauladan Rasulullah SAW.

Umat berkarakter Alquran memiliki akal yang cerdas, hati yang ikhlas dengan perbuatan yang berkualitas. “Dengan akal cerdas,umat senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuan baik sengan tanpa henti menuntut ilmu terutama selalu berma’rifat pada Allah SWT,”ujarnya.

Menurut Dosen Unida ini, dalam menuntut ilmu harus mengharmonisasikan antara akal yang bersifat ilmiah dengan imaniah. Kedua, hati yang ikhlas ini harus mencontoh  Rasulullah dan didikannya para shahabat yang memiliki tingkat ikhlas yang tinggi.

“Keikhlasan itu kunci keberhasilan dan salah satu unsur kehidupan,”ujarnya. Generasi qurani harus memiliki hati yang bersih, tulus, dan berprasangka baik.

Ketiga, perbuatan berkualitas adalah dengan bekerja sungguh-sungguh. Ketiga ciri tersebut didapatkan dari lima hal.

Akal cerdas, hati ikhlas dan perbuatan berkualitas dapat diperoleh dari memperkokoh ajaran dien-nya sebagai benteng moral.

“Memperbaiki ajaran agamanya dilakukan dengan cara sering ke majlistaklim, kuliah dengan baik, mencari ilmu dan banyak bertanya sehingga bisa memperbaiki ajaran agama yang mungkin keliru menjadi benar,” ungkap Amir.

Menurut Amir, generasi qurani harus berusaha mencari sumber mata pencaharian yang halal. Kemudian senantiasa menjadikan dunia sebagai tempat untuk menanam kebaikan. Didalam Al quran disebutkan untuk mengajak umat berlomba-lomba dalam hal kebaikan.

Kendala yang paling kuat merintangi umat dari Alquran adalah gaya hidup hedonis. Begitu juga kurikulum pendidikan yang hanya sedikit sekali memuat karakteristik qurani.

“Hanya dua sks dalam mata pelajaran agama Islam dibandingkan mata pelajaran umum,” ujarnya. Perlu ada kerjasama pemimpin agama maupun pemerintahan untuk mereformasi sistem kehidupan yang hedonism yang semakin menjauhi dari karakter qurani.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement