Sabtu 11 Jan 2014 17:19 WIB

'Laa ilaaha il'lallah' adalah Pemisah

erick yusuf
Foto: Agung Supriyanto/Republika
erick yusuf

REPUBLIKA.CO.ID,Bismillahirrahmaanirrahiim,

Suatu hari kang Otong sahabat lama datang berkunjung. Dalam larut pembicaraan nostalgia kenangan demi kenangan, lalu muncullah sebuah pertanyaan, apakah bisa atau mungkin kita masuk ke dalam keislaman atau kehidupan yang islami tanpa harus meninggalkan persahabatan dengan teman-teman lama yang masih dalam kehidupan keseharian yang tidak islami, bahkan malah jauh dari menjalankan perintah Allah SWT?.

Seorang akhwat dalam sebuah kesempatan pun pernah bertanya hal yang sama. Karena dia telah mulai mengenakan jilbab, tetapi sertamerta teman-temannya, sahabatnya perlahan tapi pasti meninggalkannya. Alasannya, akhwat ini setelah mengenakan jilbab, “udah ngga funky lagi” begitu ujar teman-temannya. Na’uudzubillah

Pertanyaan yang serupa tapi tak sama ini menitikberatkan pada pertanyaan “Sesungguhnya apakah yang memisahkan, apa betul haruskah berpisah?”. Mungkin kita bisa menjawabnya dengan perumpamaan bahwa air dan minyak bisa bersama tetapi mereka tidak bisa menyatu. Dan untuk memahami ilustrasi tersebut mari kita simak penjelasannya sebagai berikut;

Al kisah menyebutkan pada awal dakwah Nabi Muhammad SAW dalam pertemuan yang lebih besar. Ia pergi ke Bukit Shafa, sambil berdiri di sana beliau berteriak memanggil orang banyak. Karena Nabi Muhammad SAW adalah orang yang terpercaya, penduduk yakin bahwa pastilah terjadi sesuatu yang sangat penting, sehingga mereka pun berkumpul di sekitar Nabi Muhammad SAW.

Untuk menarik perhatian, mula-mula Nabi Muhammad SAW berkata, “Saudara-saudaraku, jika aku berkata, di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang siap menyerang kalian, percayakah kalian?” Dengan serentak mereka menjawab, “Percaya, kami tahu engkau belum pernah berbohong. Kejujuranmu tidak ada duanya. Karena itulah engkau mendapat gelar Al Amin (yang terpercaya).”

Kemudian Nabi SAW meneruskan, “Kalau demikian, dengarkanlah. Aku ini adalah seorang naazir (pemberi peringatan). Allah telah memerintahkanku agar aku memperingatkan saudara-saudara. Hendaknya kamu hanya menyembah Allah saja. Laa ilaaha il'lallah, Tidak ada Tuhan selain Allah.”

Tapi khutbah ini ternyata membuat orang-orang yang berkumpul itu marah, bahkan sebagian dari mereka ada yang mengejeknya gila. Pada saat itu, Abu Lahab berteriak, “Celakalah wahai engkau Muhammad. Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

Itulah salah satu kisah asbabun nuzul atau sebab turunnya surat Al lahab, tetapi yang akan kita garis bawahi dari kisah tersebut adalah satu ucapan kalimat “Laa ilaaha illallah”, yang tadinya mereka percaya kepada Muhamad SAW yang dijuluki Al Amin, tetapi hanya karena kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” lalu merekapun mengingkarinya. Dan kemudian terpisahlah manusia-manusia yang beriman kepada kalimat itu dan yang tidak mau beriman.

Dan jika kita flashback jauh sebelum ini kalimat yang sama pula yang memisahkan Nabi Nuh AS dengan istri dan anaknya, Nabi Ibrahim AS dengan ayahnya, ya inilah kalimat yang memisahkan antara orang-orang yang beriman dan yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya.  Tidak pandang bulu antara teman, sahabat, saudara bahkan ayah, ibu serta anak dapat terpisahkan oleh kalimat Laa ilaaha illallah. Kalimat yang sangat mudah untuk diucapkan tetapi sangatlah berat untuk diamalkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement