Kamis 02 Jul 2026 08:34 WIB

Pakar AI ITB Ingatkan, Jangan Jadikan AI sebagai Rujukan Utama

Ke depannya akan tambah sulit membedakan antara hasil AI dan bukan.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi artificial intelligence (AI).
Foto: Universitas BSI
Ilustrasi artificial intelligence (AI).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Kemampuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) menghasilkan teks, gambar, hingga video yang menyerupai karya manusia diperkirakan akan semakin sulit dibedakan di masa depan. Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan AI sebagai rujukan utama dan tetap bersikap kritis terhadap setiap informasi yang dihasilkannya.

Pakar AI dari ITB, Ayu Purwarianti menyampaikan bahwa ke depannya akan tambah sulit membedakan antara hasil AI dan bukan, secara kasat mata.

Baca Juga

"Tapi kalau sekarang, kalau kita sering menggunakan sebuah AI Tools, biasanya kita semakin familiar dengan ciri-ciri output dari AI Tools tersebut," kata Ayu kepada Republika, Selasa (30/6/2026)

Ayu mengatakan, cara kerja AI Large Language Model (LLM) seperti chatgpt dan lain-lain disebut dengan next token prediction, di mana setiap kata di-generate berdasar nilai probabilitas. Makanya ada yang menyebutnya sebagai stochastic parrot. Seperti burung beo, yang bisa menjawab karena Latihan.

"Seperti burung beo diajari menjawab waalaikumsalam, jika ada yang mengucapkan assalamualaikum, di mana burung beo tidak paham bahwa yang diucapkan tadi adalah salam, berpahala," ujar Ayu.

Ia menjelaskan bahwa burung beo hanya tahu bahwa kalau ada yang mengucapkan assalamualaikum, maka jawab dengan alaikumsalam. Begitu pula dengan AI yang mengeluarkan jawaban berupa rangkaian kata yang sebenarnya berupa tebakan kata dengan nilai probabilitas yang tinggi, tanpa memahami isi rangkaian kata tersebut.

"Cara kerja ini menyebabkan AI (LLM) masih berpeluang untuk meng-generate jawaban atau respon yang salah, jadi yang bertanggung jawab atas penggunaan informasi yang dikeluarkan AI (LLM) ini adalah penggunanya, sesuai panduan dari UNESCO," jelas Ayu.

Ayu menegaskan, pihak pertama yang bertanggung jawab atas penggunaan informasi yang diperoleh dari AI adalah penggunanya. Jadi pengguna dituntut untuk kritis atas informasi yang dihasilkan AI.

Ayu juga menjelaskan bahwa AI tidak boleh jadi rujukan utama, karena masih berpeluang untuk menghasilkan output yang salah.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement