Rabu 01 Jan 2014 09:46 WIB

Demi Waktu

Demi Waktu. Ilustrasi
Foto: .
Demi Waktu. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Setiap orang dianugerahi ruang dan durasi waktu yang sama, 24 jam sehari, tidak lebih semenit pun, juga tidak kurang sedetik pun. Setiap seorang mempunyai tabung waktu yang sama. Maka cara terbaik mengisinya adalah mendahulukan batu-batu besar, batu yang lebih kecil, butiran pasir, dan terakhir, air. Bandingkan jika kita mengutamakan pasir-pasir dan kerikil, maka takkan ada ruang lagi untuk batu besar.

Batu-batu besar tadi ibarat tugas-tugas besar dan terpenting dalam misi kehidupan kita. Tugas terbesar dalam hidup ini hanya ada dua; sebagai khalifah, pemakmur bumi dan sebagai Abdullah, mengistimewakan Allah di atas segalanya. Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. (QS. 51: 56).

Adalah fakta, bahwa tidak akan tersedia cukup waktu untuk mengerjakan segala sesuatu yang kita inginkan. Tapi akan selalu ada waktu jika tahu apa yang menjadi prioritas hidup.

Waktu merupakan penanda perputaran dunia. Waktu akan terus bergerak maju dan tak mungkin mundur dalam volume tetap. Waktu juga menjadi penanda sejarah seseorang. Semua mengakui bahwa hidup di dunia ini sungguh singkat, namun tidak banyak yang memahami. Artinya di balik itu semua, waktu adalah kesempatan. Pasti merugilah orang-orang yang lalai, yang tidak pandai memanfaatkan waktu. 

Beberapa tahun lalu, mungkin saja kita selalu merasa dikejar-kejar waktu. Banyak hal yang ingin dikerjakan dan diraih, namun tidak pernah tuntas. Pekerjaan satu belum selesai, berambisi mengerjakan pekerjaan satunya. Begitu seterusnya. Hidup seperti itu tidak akan bisa jenak. 

Bukan berarti tidak boleh mengerjakan banyak hal, kerjakanlah satu per satu, pelan-pelan, dan tentukan mana yang paling utama dan mendesak. Jangan sampai dibingungkan oleh keinginan-keinginan yang mengesampingkan tugas terbesar yaitu menomorsatukan Allah, serta prioritas utama sebagai Khalifah.

Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka bertanyalah kepada orang-orang yang menghitung." Allah berfirman: "Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu mengetahui." (QS. 23: 112-114). Keberkahan sebuah waktu adalah ketika kita dapat mengatur waktu dan hidup sebermakna mungkin dan tidak lagi melakukan kegiatan-kegiatan bernilai rendah.

Dalam perspektif yang lain, orang yang merugi adalah, orang yang banyak memikirkan sesuatu yang tidak harus dipikirkan. Banyak mengerjakan sesuatu yang tidak seharusnya dikerjakan. Banyak membicarakan hal-hal yang tidak perlu dibicarakan. Dan, banyak mengurus sesuatu yang bukan urusannya. Hidup di dunia ini menyenangkan dan di akhirat akan lebih menyenangkan, bukan.

Selamat Tahun Baru 2014.

sumber : Ahmad Fauz
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement