Ahad 22 Sep 2013 01:27 WIB

Masjid Kowloon Pemersatu Muslim Hong Kong yang Beragam

Rep: Agung Sasongko/ Red: Hazliansyah

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Setiap adzan berkumandang, ratusan Muslim berbondong-bondong menuju Masjid Kowloon. Ini masjid tertua di Hong Kong.

"Jamaah kami berasal dari Pakistan, India, Bangladesh, Indonesia, Afrika dan Arab," ungkap Mufti Muhamamd Arshad, seperti dilansir South China Morning Post, Sabtu (21/9).

Arshad yang merupakan imigran asal Pakistan semakin paham mengurusi jamaah yang berasal dari berbagai negara. Itu sebabnya, dalam setiap kesempatan ia selalu menekankan betapa persatuan itu penting bagi umat Islam.

"Anda tahu, Islam bukan agama etnis tertentu. Dan Islam bukan agama ekstrimis," tegas dia.

Saat ini, kata Arshad, umat Islam Hong Kong tengah berjuang meminta pengakuan pemerintah terkait perayaan Idul Fitri sebagai hari libur nasional. Lobi terus dilakukan. Bahkan, anggota legislatif Hong Kong, Jasper Tsang Yok-Sing, mendukung penuh permohonan Muslim.

"Secara prinsip dia setuju soal ini," kata dia.

Di luar itu, Masjid Kowloon mulai dikunjungi kalangan non-Muslim. Mereka yang datang umumnya melakukan dialog tentang Islam dan Muslim. Masjid pun dengan tangan terbuka menyambut siapa saja yang ingin berkunjung.

"Kami telah banyak dikunjungi komunitas agama lain seperti Yahudi, Hindu, Buddha, Sikh dan Kristen," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement