Senin 09 Sep 2013 00:19 WIB

Uum

Ustaz Yusuf Mansur
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Ustaz Yusuf Mansur

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ustaz Yusuf Mansur

Semasa kecil saya dimandikan sama ibu saya. Hampir di setiap mandi, pas dikeringkan, pagi sore, ibu berdoa, “Mudah-mudahan Jam’an, bisa jadi Guru Mansur. Bisa jadi ulama besar, kyai besar.”

Ibu saya memintakan nama bagi saya bayi saat itu kepada almarhum KH. Sanusi Hasan. Dan diberikanlah nama: Jam’an. Lengkapnya Jam’an Nurchotib Mansur. Yang punya arti kurang lebih: Berkumpulnya cahaya para khotib, cahaya para penceramah.

Dan Mansur merujuk nama KH. Mohammad Mansur atau yang dikenal dengan nama Guru Mansur. Beliau buyut kami, seorang ulama Betawi tempo dulu yang namanya dijadikan nama jalan yang membentang di Jembatan Lima, antara Roxi sampai ke jembatan layang Kota. Ahli falak, dengan kitabnya yang masyhur di bidang ini: Sullamun Nairain.

Ibu sangat ingin saya menjadi ulama. Ingin saya menjadi penerus kakeknya ibu. Dan ibu senantiasa bilang, “Siapa yang mendoakan ibu kalo nanti sudah meninggal?”.

Kutipan kalimat ibu, saya pernah jadikan kalimat promo bagi Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an: “Ibu ga kepengen anak ibu cuma pinter, tapi meninggalkan shalat. Ibu ga kepengen anak ibu cuma kaya, tapi sedikit amal. Ibu ga kepengen anak ibu sukses tapi lupa mendoakan ibu.

Di antara doa ibu yang lain, yang hampir terdengar dan diperdengarkan, saat mengeringkan badan saya ketika dimandikan beliau, “Mudah-mudahan Jam’an bisa bulak balik ke Mekkah, ke Tanah Suci, kayak ke depan pintu. Bisa bulak balik kapan aja.”

Saat itu saya pernah protes, “Ga mungkin doanya Bu. Doa yang lain aja...” Ibu saya saat itu jawab, “Eh eh eh... Kalo Allah sudah bilang Kun, Fayakuuun...”

Ibu saya, Uum, panggilan pendek dari Humrif’ah, putri dari pasangan Firdaus dan Rafi’ah, wafat Senin yang lalu, tanggal 26 Syawal 1434H/2 September 2013, di usia beliau 63 tahun.

Saat menuliskan ini saja, air mata menetes. Sungguh banyak hal dari beliau, yang akhirnya saya sampaikan ke kawan-kawan jamaah. Kadang malah apa adanya seperti kalimat Kun Fayakuun. Inspirasi-inspirasi dari beliau, mengalir lagi ke jamaah dalam bentuk pengajaran atau contoh.

Kawan-kawan yang memperhatikan saya, bagaimana saya kemudian memasarkan shalawat. Mendakwahkan shalawat. Sesungguhnya pun ini inspirasinya dari beliau. Saya kenyang mandi shalawat.

Seorang kawan SD-nya ibu, pernah bersaksi kepada saya, “Jam’an mah wajar jadi Ustadz. Jadi orang. Dari bayi, ibu kamu tuh ga putus shalawat. Mandiin, sambil shalawat. Ngeringin badan sambil shalawat. Nganter sekolah sambil shalawat. Nyuapin sambil shalawat. Ngegendong, sambil shalawat.

Sungguh pun saya sampe sekarang masih berasa bukan siapa-siapa, hanya seorang yang bertaubat dan lagi memperbaiki diri. Yang dalam masa pertaubatan dan perbaikan diri ini, saya sekalian ngajak yang mau ikut bertaubat dan memperbaiki diri.

Saya merasa, bahwa bener-bener doa ibu itulah salah satu yang membuat saya masih diberi Allah kesempatan itu. Dengan izin Allah, tahun 2002 saya yang lama tak pulang ke rumah, kembali pulang ke rumah.

Dalam keadaan sudah menulis dua buku: Mencari Tuhan dan Kun Fayakuun, dan sudah mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Komputer, saya ditanya sama ayah saya, “Apa yang kira-kira sudah membuat Kamu begini? Kayaknya bisa bangkit lagi? Bisa maju?”

Saya terdiam. Saya ingin menjawab, “Shalat dhuha saya ga putus. Berusaha shalat malam terus. Puasa. Sedekah habis-habisan, terus-terusan. Belajar. Gigih. Pantang menyerah...”, dan kata-kata lain, tapi semua itu ga keluar.

Saya tahu, pasti ada kalimat lain. Dan benar saja. Kata ayah saya, “Doa ibu tuh. Ibu pagi siang sore malam, haidh ga haidh, selalu di atas sajadah. Doain Jam’an, biar jadi orang bener, biar jadi orang besar, biar jadi kyai.” Saat itu saya setengah lari ke kamar ibu. Dan ibu dalam keadaan di atas sajadah, berbalut mukena.

Yaa Allah, ampunilah ibu saya. Apa-apa kebaikan dari saya, dan semua orang yang mendengar saya, mengikuti saya, alirkan pahala yang sempurna untuk beliau. Dan juga untuk segenap orang-orang tua saya yang lain. Ampuni juga segala kesalahan saya dan semua kesalahan adik-adik saya, supaya ga mengalir kesalahannya buat orang-orang tua.” Tolong aminkan doa saya ini ya. Insya Allah kembali doa kepada yang mendoakan. Salam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement