Kamis 04 Jul 2013 12:18 WIB

Menanti Gelar Pahlawan untuk KH Saifuddin Zuhri

Rep: Rosita Budi Suryaningsih/ Red: Heri Ruslan
KH Saifuddin Zuhri
Foto: nu.or.id
KH Saifuddin Zuhri

REPUBLIKA.CO.ID,  Dukungan mengalir deras. Sejumlah tokoh meminta agar KH Saifuddin Zuhri dianugerahi sebagai pahlawan nasional.

Sebut saja, misalnya, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan tokoh perempuan Khofifah Indar Parawansa. Usulan mereka sampaikan kepada pemerintah.

Saifuddin merupakan pejuang yang juga ulama. Ia lahir pada 1919 di Banyumas, Jawa Tengah. Harry Tjan Silalahi dari Center For Strategic and International Studies (CSIS) juga mendukung agar disematkan gelar pahlawan nasional untuk Saifuddin. Ia mengenal sosok Saifuddin. Menurut dia, Saifuddin sangat berani dan pantas menjadi pahlawan nasional.

Dari Banyumas, Jawa Tengah, baru Soedirman yang dikenal sebagai pahlawan. “Perlu juga pahlawan yang berbasis ulama, mereka juga ikut berperang,” kata Harry di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (2/7). Ia mengaku pernah berinteraksi dengan Saifuddin. Pertemuannya selalu menjadi kenangan dan penyemangat dirinya.

Ia mencontohkan, Saifuddin berani berkata kepada Presiden Sukarno agar tak membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saifuddin berani bertempur di garis depan medan perang, juga aktif dalam organisasi dan menjadi pembantu presiden. Didikan sejak kecilnya yang bernuansa pesantren, kata Harry, membuatnya tak pernah meninggalkan kewajiban sebagai Muslim.

Perilaku Saifuddin yang mulia, perilakunya yang santun, juga bertanggung jawab membuat sosok ini banyak dikagumi oleh banyak orang. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, juga kagum. “Akhlaknya tidak perlu dipertanyakan lagi,” ujarnya. Meski ia berjuang langsung merebut kemerdekaan bersenjatakan bambu runcing, Saifuddin tak pernah meninggalkan tugas utamanya sebagai ulama.

Said mengatakan, Saifuddin selalu berusaha membantu orang-orang di sekitarnya untuk lebih memahami ajaran agamanya. Putri kandung Saifuddin, Farida Salahuddin Wahid, mengatakan, ayahnya ikut turun memimpin perang bersama pasukan Hizbullah. Mereka menentang keberadaan tentara Belanda maupun Jepang lewat perang gerilya.

Menurut dia, dalam usianya yang baru 19 tahun, ayahnya kala itu sudah menjadi ketua Pemuda Ansor Jawa Tengah bagian selatan. Lalu, Saifuddin dipercaya sebagai komandan Hizbullah Jawa Tengah yang mengangkat senjata memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia masuk keluar hutan, ikut berperang secara gerilya, khususnya di wilayah selatan Jawa Tengah.

Anak dan istrinya pun ikut serta dalam perjuangannya. “Saat itu, ibu saya sedang hamil besar sembilan bulan, tetap ikut mendampingi ayah berperang,” katanya. Mereka bahkan sering terdesak hingga masuk jauh ke dalam hutan demi menghindari kejaran musuh, tinggal di pengungsian, hingga dititipkan kepada kawannya. Perjuangannya membuahkan hasil, penjajah terusir.

Atas jasanya dalam perjuangan, Saifuddin diberi tanda kehormatan Bintang Gerilya pada 1965. Beberapa penghargaan Satya Lancana juga diperolehnya karena ia selalu terlibat aktif dalam membela Tanah Air, baik untuk merebut kemerdekaan maupun untuk mempertahankannya. Pada usia 35 tahun, kata Farida, ayahnya menjabat sekretaris jenderal PBNU.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement