Senin 29 Apr 2013 13:32 WIB

Geliat Islam di Madrid (Bagian-1)

Kota Madrid
Foto: blogspot.com
Kota Madrid

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

Meski minoritas, umat Muslim di Madrid nyaman beribadah.

Menyebut Madrid, mungkin yang langsung teringat di benak ialah klub sepak bola raksasa Real Madrid. Klub yang menaungi pemain Muslim ternama Mesut Oezil ini memang amat terkenal tak hanya di Spanyol, tapi seluruh dunia.

Oezil hanyalah satu dari banyaknya kaum Muslim yang tinggal di Kota Madrid, kota terluas di Spanyol. Sejak abad kesembilan, Islam datang ke Spanyol. Inilah pintu gerbang bagi Islam masuk ke Eropa. Tak heran jika Islam amat berkembang di Negara Matador tersebut.

Meski Madrid telah ada sejak zaman prasejarah, ibu kota Spanyol ini baru memasuki era sejarah ketika kedatangan Muslimin. Di bawah kepemimpinan Muhammad I (850-866), Muslimin bergerak dari Cordoba ke Madrid.

Seperti diketahui, kekhalifahan Bani Umayyah meluaskan Islam hingga Tanah Eropa. Cordoba (Cordova) merupakan titik pertama Muslimin menguasai Barat sebelum kemudian merambah hingga hampir seluruh Andalusia.

Ketika sampai di Madrid, Muhammad I membangun benteng pertahanan di sebuah bukit di tepi kiri Sungai Manzanares. Benteng ini sangat kokoh melindungi Kota Madrid yang ekonominya sangat maju kala itu.

Disebutkan pula, sang khalifah memerintahkan pembangunan sebuah istana kecil di tempat yang sama yang saat ini ditempati Real Palacio. Di sekitar istana tersebut, dibangun benteng kecil, al-Mudayna.

Nama Madrid berasal dari bahasa Arab al-Majrit, yang berarti saluran air. Nama tersebut diambil karena saat itu sistem irigasi Andalusia sangat bagus. Sungai Manzanares menjadi sumber air utama.

Al-Majrit, dengan tha' juga bermakna sumber air. Kemudian, nama al-Majrit ini pun menjadi ejaan modern setempat sehingga menjadi Madrid.

Saat Islam berkuasa, banyak pembangunan yang dilakukan. Perekonomian Madrid makin maju. Dengan sumber air yang melimpah, Muslimin membangun terowongan tanah untuk irigasi serta dibangun penyediaan air agar air merata ke seluruh wilayah.

Selain itu, masih banyak yang ditorehkan umat Islam di kota terbesar ketiga di Eropa tersebut. Namun sayangnya, budaya Islam tak bertahan lama dan tak banyak berbekas saat ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement