Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Apakah Takdir Sebuah Pilihan?

Sabtu 09 Feb 2013 00:07 WIB

Rep: irwan kelana/ Red: Damanhuri Zuhri

Ustaz Wijayanto

Ustaz Wijayanto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Suatu hari seorang anak pejabat tinggi yang terkena narkoba bertemu Ustaz Wijayanto. Dia mengatakan ayahnya jadi pejabat tinggi adalah takdir; ayahnya menikah dengan ibunya adalah takdir; dirinya terkena narkoba juga adalah takdir. Dan semua itu sudah ditulis di Lauhil Mahfuz.

“Oh, begitu ya?” kata Ustaz Wijayanto. “Coba kamu maju ke mari lebih dekat.”

Ketika anak muda tersebut berada persis di depan Ustaz Wijayanto, tiba-tiba dia memukulnya, sehingga anak muda tersebut kesakitan. “Mengapa Ustaz  memukul saya?” tanyanya terkejut.

“Saya hanya menjalani takdir saya,” sahut Ustaz Wijayanto.

Ketika anak muda tersebut hendak membalas, Ustaz Wijayanto mencegahnya. “Kamu jangan membalas. Sebab yang tertulis di Lauhul Mahfuz kamu tidak membalas pukulan saya.” Anak muda itu tak berkutik. 

Dengan contoh tersebut, Ustaz Wijayanto menegaskan menjadi pemakai atau pecandu narkoba bukanlah takdir, melainkan pilihan.

“Pilihan yang salah, yang seharusnya dihindari,” ujar Ustaz Wijayanto  saat mengisi ceramah  rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW  bertajuk  “Kenali Diri Bangkit Sekarang” yang diadakan The New You Institute di Masjid Raya Pondok Indah Jakarta, Jumat (8/2).

Ia lalu menjelaskan konsep takdir. “Takdir itu ada dua macam. Pertama, takdir yang tidak ada pilihan, sudah ditulis di Lauhil Mahfuz, tidak ada campur tangan manusia,” kata Ustaz Wijayanto.

Ia mencontohkan takdir yang tidak ada pilihan bagi manusia, seorang anak lahir dari pasangan orang tuanya, tempat lahir, jenis kelamin, etnis, tsunami, gempa bumi, dan hari kiamat.

“Dalam hal ini, manusia tidak bisa memilih. Ini bukan kehendak kita. Ini semata-mata kehendak Allah SWT,” tutur dosen Pasca Sarjana UGM itu.

Kedua, kata Ustaz Wijayanto, takdir yang ada sifat otonomi, artinya manusia bisa atau berhak memilih. Misalnya, seseorang itu mau menjadi orang beriman atau kafir, mau masuk surga atau neraka, rajin atau malas, memakai narkoba atau tidak, banjir atau tidak, semua itu adalah pilihan, bukan takdir.

“Menjadi orang baik atau buruk itu adalah pilihan, bukan takdir. Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya. Kalau seorang hamba masuk neraka, itu karena dia memilih menjadi ahli  neraka, yakni melakukan  hal-hal yang dilarang atau dibenci Allah,” papar Ustaz Wijayanto.

Karena itu, kata Ustadz Wijayanto, sudah selayaknya seorang manusia selalu berusaha menjadi baik. Seberapa jauh hasilnya, biarlah Allah yang menilainya. “Sebab, yang dinilai oleh Allah adalah manajemen proses, bukan hasilnya. Yang terpenting, kita selalu berikhtiar menjadi orang baik,” tegas Ustadz Wijayanto.

Founder, Principal dan Master Trainer The New You, Zulfikar Alimuddin mengatakan rangkaian acara peringatan Maulid itu berlangsung selama satu hari, dari pukul 08.00-21.00. Salah satu acaranya adalah tabligh akbar yang menampilkan  Ustaz Wijayanto, Ustaz Abi Maky dan Ustaz Pardamean Harahap.

Acara lainnya adalah bedah buku “The New You” bersama Zulfikar Alimuddin, talk show “Tumbuh Kembang Anak” bersama Tri Gunadi, serta lomba menghapal Alquran dan mewarnai.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA