REPUBLIKA.CO.ID, Segudang pertanyaan berkelindan di benak Saad Ibnu Rabi.
Siapa yang telah menciptakan alam semesta? Siapa yang memasang gemintang dan planet-planet di permukaan langit? Siapa yang melengkungkan langit ke Bumi?
Siapa yang menumbuhkan berbagai tanaman? Bagaimana kejadian bayi di perut ibunya? Siapa yang membuka kedua matanya, membentuk kedua bibirnya, dan menciptakan dalam bentuk yang paling indah? Siapakah yang melakukan semua itu?
Apakah yang melakukan hal itu Tuhannya kaum Yahudi yang suka makan, minum, memiliki bentuk, memiliki tubuh, dan bermain-main dengan paus di kedalaman samudra?
Ataukah yang membuat semua itu adalah Tuhannya kaum Nasrani yang tiga itu, yang berlomba, berselisih, dan saling menaklukkan? Atau, yang melakukan tugas itu adalah berhala-berhala Quraisy yang besar, seperti Hubal, Lata, dan Manat?
Ataukah berhala-berhala kecil yang dipahat oleh tangan manusia sendiri dan digelar di dekat pilar-pilar Ka’bah, yaitu berhala yang tidak dapat berbicara dan menjelaskan sesuatu?
Apakah berhala-berhala itu mampu menyuguhkan berbagai macam makanan? Apakah berhala-berhala itu dapat mendengar keluhan seorang yang sakit? Saad bergidik dan mengusap tubuhnya seraya berucap dengan lantang. “Tidak… tidak… aku tidak akan menyia-nyiakan akalku.”
Akhirnya, pada suatu hari, tatkala Saad mondar-mandir di pasar, dia melihat sebuah kafilah yang tengah mempersiapkan diri untuk melakukan keberangkatan. Pada kafilah tersebut terdapat sahabat dan temannya sejak kecil. Dia adalah Ubadah.
“Sepertinya kalian hendak pergi jauh?” tanya Saad.
“Ya, Saad, tujuan kami adalah Baitullah yang haram,” ujar Ubadah.




