Rabu 31 Oct 2012 09:06 WIB

Kelima Kali, Ulama Rusia Ditembak Mati

Muslim di Rusia melakukan shalat di trotoar jalanan di Moskow, Rusia.
Foto: REUTERS
Muslim di Rusia melakukan shalat di trotoar jalanan di Moskow, Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, DAGESTAN--Sekelompok pria bersenjata kembali menembak mati seorang pemimpin Muslim religius di wilayah Dagestan, Rusia, Selasa (30/10) kemarin. Serangan itu diprediksi memperburuk kekerasan militan yang mengancam tangan Moskow di wilayah Kaukasus Utara yang tak pernah berhenti bergejolak.

Karimulla Ibragimov menjadi ulama Muslim kelima yang terbunuh tahun ini, menyusul ketegangan meningkat antara Muslim moderat dan radikal di kawasan selatan Rusia. Para pria bersenjata memberondongkan senapan mereka ke Ibragimov, ayahnya dan saudara lelakinya di kota Derbent pada pukul 18.30.

"Ketiganya meninggal di tempat akibat tembakan," komite penyelidikan lokal, badan pemerintah yang menangani investigasi kejahatan, dalam pernyataan resminya, seperti yang dilansir Scotsman.com, Rabu (31/10). Sang ulama dikenal sebagai imam sebuah masjid yang tak tercatat di registrasi pemerintah.

Dagestan adalah pusat pemberontakan militan yang menginginkan negara Islam merdeka di Kaukasus Utara. Lebih dari satu dekade sudah tentara Rusia mendepak pemerintahan kaum pemberontak di lingkungan Chechnya dan memulihkan kekuasaan Moskow di kawasan tersebut.

Analis keamanan menyatakan kekerasan memang disengaja untuk melemahkan setiap upaya merekonsiliasi muslim moderat dan radikal. Tujuannya memprovokasi pendekatan lebih militeristik dari Moskow, yang justru kian meradikalisasi populasi.

Presiden Vladimir Putin, perdana menteri pada 1999, mengirimkan pasukan ke Chechnya dan menginginkan pendekatan lebih keras serta tak membiarkan intoleransi memecah belah Rusia. Saat itu, pemuka agama Islam paling senior di Rusia memperingatkan bahaya perang sipil di Dagestan, yang hanya berjarak ratusan kilometer dari kota Sochi, di mana Rusia akan menjadi tuan rumah Olimpiade Muslim Dingin pada 2014.

Putin pun menyerukan persatuan dan meminta pasukan bergerak lebih cerdas dan lebih kuat ketimbang militan Islam demi memastikan keamanan ajang-ajang internasional yang akan diselenggarakan di Rusia.

Namun analis keamanan menyatakan kekerasan baru bisa memaksa pendekatan yang mengutamakan kekuatan terhadap antitoleransi beragama, ujungnya justru mendorong aksi balasan dan memicu pertumpahan darah lebih luas.

Pada Agustus lalu, seorang wanita menyamar sebagai jamaah memicu peledak yang dililitkan ditubuhnya di Dagestan, membunuh pemimpin spiritual ternama, Said Atsayev, 74 tahun. Ia adalah seorang tokoh sufi yang dikenal penentang kekerasan dan militan Islam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement