REPUBLIKA.CO.ID, Secara khusus, geografer Muslim, Al-Muqaddasi, pada abad keempat H atau ke-10 Masehi menyebutkan nama dan lusinan jenis kapal. Setiap kapal Muslim tersebut juga mencerminkan karakteristik tertentu.
Kapal dagang umumnya merupakan kapal layar yang memiliki rentangan yang relatif lebar dan panjang. Panjangnya layar berfungsi sebagai ruang penyimpanan (kargo) yang lapang.
Pada masa kejayaan Islam, sungai Nil mempunyai peranan penting dalam perdagangan internasional dan industri pembuatan kapal. Kota itu dikuasai Islam sejak Amr bin Ash menaklukkan wilayah itu.
Kapal perang berbeda dengan kapal dagang, kapal perang bentuknya lebih ramping. Kapal ini bisa menggunakan dayung atau layar, tergantung dari fungsinya.
Selain dibangun di pelabuhan-pelabuh an yang ada di Mesir, pada zaman kejayaan Islam kapal perang juga dibuat di wilayah Barat, seperti Tripoli dan Tunis di Afrika Utara, kemudian di Sevilla, Almeria, Pechina, dan Valencia di Spanyol.
Selain itu, kapal- kapal perang juga di buat oleh kaum Muslim di Messina dan Palermo dengan mempekerjakan ribuan orang. Industri pembuatan kapal juga berkembang pada zaman Dinasti Fatimiyyah. Mereka memperluas fasilitas pembuatan kapal perangnya di Tunis.
Ada beberapa armada yang penting pada zaman kekuasaan Dinasti Fatimiyyah, yakni armada Sheen, Al-Harariq, Al-Harareeb, dan Al-Taraid. Setelah kekuasaan Fatimiyyah meredup, industri pembuatan kapal dilanjutkan oleh Dinasti Ayyubiyah dan Mamluk.
Pada 566 H (1170 M), Salahudin Al-Ayubi berhasil membuat bagian-bagian badan kapal di galangan kapal Mesir. Salahudin juga memerintahkan pendirian dermaga perakitan kapal untuk memasok kapal-kapal dalam pertempuran melawan pasukan tentara Perang Salib.