Kamis 09 Aug 2012 20:21 WIB

Seni Arabes dan Sejarahnya (3)

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Chairul Akhmad
  Salah satu bentuk seni Arabes.
Foto: starsinsymmetry.com
Salah satu bentuk seni Arabes.

REPUBLIKA.CO.ID, Arsitektur istana dan tempat peristirahatan ini bersifat duniawi. Bentuknya dipengaruhi oleh tradisi sebelumnya, termasuk gambar naturalisnya.

Padahal, ajaran Islam sendiri sejak awal diturunkan tidak mengenal budaya naturalisme maupun antropomorfisme. Sebab, dalam Islam terdapat pemisahan yang tegas antara Tuhan dan alam, Tuhan dan ciptaan-Nya.

Tidak ada satu pun ciptaan-Nya di alam semesta ini yang bisa menggambarkan “wujud Tuhan”, karena Dia transenden atau tak terbayangkan kebesaran-Nya.

Ajaran tauhid dalam Islam memang menghilangkan penggambaran Tuhan dengan menggunakan simbol maupun ikon. Sebab, Allah SWT itu sangat agung, sehingga keagungan-Nya tak mungkin bisa digambarkan manusia yang paling cerdas dan sehebat apa pun.

Pandangan tauhid umat Islam yang semacam ini kemudian memengaruhi lahirnya seni Arabes. Seni ini hanya menggunakan pola tumbuhan dan geometris yang abstrak dan nonfiguratif, bukan pola manusia maupun binatang.

Tak terbatas

Seorang seniman Muslim ketika melahirkan karya-karyanya berusaha menggambarkan sifat Allah SWT—Sang Pencipta alam semesta—yang keindahan-Nya mustahil digambarkan melalui bentuk bendawi.

Maka, sifat Allah SWT yang transenden itu diekspresikan dalam pola serta ritme berbagai macam tumbuhan dan geometris yang mengesankan ketakterbatasan dan ketakterhinggaan bagi para penikmatnya.

Pola arabes yang tak terbatas ini menggambarkan kehadiran Tuhan yang ada di mana-mana tak terbatas oleh ruang dan waktu. Dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 115, Allah SWT berfirman, ''Ke manapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah.”

Dari firman Allah SWT tersebut, maka Allah itu ada dan hadir di mana saja. Sehingga, manusia tidak mungkin dan tidak bisa menggambarkan bagaimana rupa dan keadaan-Nya yang tanpa batas.  

Sementara pengulangan bentuk yang tak terbatas pada desain arabes seakan terkesan tidak memberi kesempatan kepada penikmatnya untuk terpaku pada satu bentuk saja, melainkan terus mengembara, sehingga tidak ada waktu bagi solidifikasi dan kristalisasi materi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement