Jumat 22 Jun 2012 21:31 WIB

Progam Pendidikan Imam Jerman Diragukan

Rep: Agung Sasongko/ Red: Karta Raharja Ucu
Muslim Jerman (ilustrasi)
Foto: weaselzippers.us
Muslim Jerman (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Pendidikan imam merupakan solusi konkret untuk mempermudah integrasi komunitas Muslim ke dalam masyrakat Jerman. Persoalan yang mengemuka selanjutnya adalah bagaimana mengabungkan pandangan Islam dan Barat.

Professor Mathias Rohe mengatakan, program ini sangat strategis. Namun, perjalanan program ini akan banyak memicu perdebatan. "Saya tidak yakin akan mendapatkan pujian untuk apa yang tengah dilakukan," sebut dia seperti dikutip onislam.net, Jumat (22/6).

Tidak seperti koleganya, Profesor Pendidikan Islam dari University of Osnabruck, Bülent Ucar mengaku optimis program ini akan berjalan sebagaimana mestinya. Ini mengingat umat Islam telah berada di Jerman lebih dari 50 tahun. Tentu program ini paling realistis ketimbang opsi lain.

"Sudah saatnya guru agama, imam dan teolog Islam mendapat pendidikan tentang Islam di Jerman," kata Ucar.

Selama beberapa bulan terakhir, sejumlah perguruan tinggi di Jerman mulai menawarkan studi Islam bagi para imam dari berbagai bahasa, budaya dan bangsa. Program ini sendiri mendapat bantuan dari pemerintah Jerman sebesar 20 juta euro atau 25,4 juta dolar AS selama lima tahun ke depan.

Seperti diberitakan sebelumnya, perdebatan akan integrasi hangat terjadi di Jerman baru-baru ini, khususnya tentang warga asal Turki. Ini terjadi sejak politikus sosialis Jerman, Thilo Sarrazin, menulis sebuah buku kritis mengenai integrasi dan pemimpin tokoh partai kanan populis, PVV, Geert Wilders, berpidato di Berlin.

Populasi Muslim di Jerman mencapai 3,8-4,3 juta Muslim atau sekitar lima persen dari populasi Jerman yang mencapai 82 juta. Dengan jumlah populasi demikian besar, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di Jerman.

sumber : onislam.net
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement