Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
Wujud potensial berupa nama-nama atau sifat-sifat ini menuntut aktualisasi. Allah SWT sebagai Tuhan Yang Disembah (Rab/Ilah), maka sudah barang tentu memerlukan penyembah (marbub/makhluk).
Contoh lain, Allah SWT memiliki sejumlah nama atau sifat, seperti al-Khaliq (Mahapencipta), al-Wahhab (Mahapemberi), al-Rahim (Mahapenyayang), dan al-Gafur (Mahapengampun), dan al-Tawwab (Mahapenerima taubat), dan seterusnya.
Untuk mengaktualisasikan nama-nama dan sifat-sifat itu memerlukan obyek. Sebab, bagaimana mungkin mengatakan Sang Khalik tanpa makhluk, Sang Mahapemberi tanpa obyek yang diberi, Sang Mahapenyayang tanpa obyek yang disayangi, Sang Mahapengampun dan Sang Penerima Taubat tanpa ada obyek yang melakukan kesalahan atau kekurangan untuk diampuni.
Dari sini dapat dipahami, Tuhan menimbulkan realitas dan realitas menimbulkan entitas. Asal-usul penciptaan keragaman makhluk yang berasal dari Mahaesa rupanya dibahas juga di dalam agama-agama lain. Kadang-kadang, pembahasan agama lain dapat digunakan untuk memahami dalil-dalil penciptaan makhluk di dalam Islam.
Dalam Taoisme, relasi Sang Khalik dan makhluk-Nya dijelaskan dalam konsep ”Dualitas Ilahi” (The Duality of God), sebagaimana pernah dibahas dalam artikel terdahulu. Interaksi antara Yang/Muatstsir dan Yin/Ma’tsur menimbulkan jutaan hal (al-katsrah).
Dalam literatur tasawuf Yahudi (Kabbalah), Maqam Ahadiyyah dihubungkan dengan Ein Sof yang memanifestasikan diri melalui proses emanasi, maka lahirlah sefirot.
Interaksi Ein Sof dan sefirot merupakan dua hal yang tak terpisahkan sebagaimana halnya Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah. Sefirot nanti menjadi jutaan manifestasi, namun satu sama lainnya tak terpisahkan dengan Sang Substansi (Ein Sof).