Seni berbicara
Salah satu bahasan dalam karya tokoh yang wafat pada (463 H/1071 M) itu, mengupas tentang seni berbicara.
Sesuai dengan metode yang digunakan, Ibnu Abd Al-Barr, mengutip beberapa teks keagamaan, kalam salaf, dan juga syair-syair yang berkorelasi langsung dengan bagaimana berbicara yang benar, termasuk keutamaan beretika saat berbicara.
Sebuah hadis menyebutkan, bahwa sedekah yang paling utama ialah bersedekah dengan lisan. Artinya, menjaga lisan dengan baik. Dengan tindakan itu, maka akan menghilangkan hal-hal yang tidak diinginkan dan menjaga terjadinya konflik berdarah.
Adalah seorang alim, Abu Inabah Al-Khaulani, pernah mengatakan, untaian kalimat yang bagus lebih berguna ketimbang gelimang harta.
Lantas manakah lebih utama, berdiam diri agar selamat atau berbicara dengan penuh kesantunan? Menurut Al-Ahnaf bin Qais, berbicara dengan kesantuan jauh lebih afdhal. Perkataan yang baik, memberi manfaat bagi siapa pun yang mendengarnya.
Penyair terkemuka, Hasan bin Tsabit, menulis sebuah bait tentang pentingnya memerhatikan tiap kata yang keluar dari lisan:
Lisan dan mata pedangku keduanya, sangat tajam
Tetapi, tajamnya lisanku, melampui pedangku
Selain Hasan, ada pula Jarir. Ia berucap:
Sekali tebas, pedangku tak menyisa tulang sekalipun
Dan pedangku, tak lebih buruk dampaknya dari lisanku
Diakui, tak semua orang dianugerahi kemampuan untuk berbicara dengan baik dan benar. Padahal, kemampuan berkomunikasi tersebut bisa menjadi magnet dan daya tarik yang luar biasa bagi publik. Atau merujuk pada istilah hadis, kekuatan retorika dan penyampaian pesan bisa menjelma layaknya sihir yang mampu menghipnotis siapa pun.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, suatu ketika Rasulullah pernah dibuat takjub oleh gaya retorika saat dua orang asing menyampaikan pidatonya. Rasulullah pun memberi komentar, “Sungguh, kekuatan retorika (bayan) adalah (ibarat) sihir.”




