REPUBLIKA.CO.ID, Konon, kepiawaian cendekiawan Muslim di abad pertengahan tak hanya berpaku pada ilmu keagamaan. Sejumlah ulama memiliki perhatian penuh akan sastra dan adab kultural Arab klasik.
Tetapi bedanya, analisa dan pendapat yang mereka tawarkan, lain dengan penyair ataupun pemerhati sastra pada umumnya. Pemikiran sastra ilmuwan Muslim itu, kental nilai-nilai religi yang bersumber pada teks-teks keagamaan. Teks tersebut bisa berupa ayat Alquran, hadis, hingga kalam bijak para salaf.
Melalui kitab berjudul Bahjat Al-Majalis wa Unsul Al-Majalis wa Syahdz Ad-Dzahin wa Al-Hajis, Ibnu Abd Al-Barr, mencoba menghadirkan tentang gambaran sastra yang sarat dengan muatan etika.
Tokoh dengan nama lengkap Yusuf bin Umar bin Abd Al-Barr bin Abdillah bin Muhammad bin Abd Al-Barr An-Namari Al-Qurthubi itu, mengutip berbagai literatur tentang adab. Sebagian besar, ia peroleh dari para gurunya.
Ada banyak tujuan yang hendak ia capai. Penulisan bukunya tersebut adalah sebuah upaya mendekatkan diri kepada Allah. “Sebuah langkah awal, yang harus dilewati setelah seorang murid memahami teks-teks keagaman. Ini akan mendorong kekemuliaan dan mencegah berbuat hina,” tulisnya.
“Kejadian-kejadian unik Arab kuno yang positif, memicu mengikuti jejak kebaikan mereka,” lanjut Al-Barr. Dan paling penting, kajian apa pun tentang sastra dan adab Arab kuno, sekaligus berguna untuk mempertahankan lokalitas dan kemurnian dialek berikut karakter Arab kuno.
Soal sistematika penulisan, kitab yang ditulis tokoh kelahiran Cordova (368 H/ 978 M) ini tergolong sederhana. Ia membagi kitabnya ke dalam 132 bab. Tiap babnya, bermuatan tentang perkara dunia dan akhirat. Di permulaan setiap bab, putra Abdullah bin Muhammad itu menyertakan ayat Alquran, hadis Nabi, lantas menukil syair-syair yang ditulis pujangga Arab dengan beragam nilai di dalamnya.
Bila dibandingkan dengan kitab di bidang yang sama, gaya penulisan itu mirip dengan metode yang digunakan oleh Ibnu Qutaibah dalam Uyun Al-Akhbar atau kitab Al-Iqdul Farid karangan Ibnu Abd Rabbih.
Hanya saja, bila menelisik lebih jauh, justru kemiripinnya lebih mendekati metode Al-Jahidz dalam karyanya yang berjudul Al-Mahasin wa Al-Adhdad. Hampir di tiap bab, Ibnu Abd Al-Barr menulis dua makna berbeda yang saling menguatkan. “Agar variatif, mengena, dan berfaedah,” ujarnya.




