Senin 02 Apr 2012 06:17 WIB

Geliat Ilmu Pengetahuan di Era Buwaihi

Peninggalan Dinasti Buwaihi
Foto: isfahan.ir
Peninggalan Dinasti Buwaihi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Heri Ruslan

Masa kejayaan Bani Buwaih merupakan era transisi berakhirnya kekuasaan bangsa Arab di Kekhalifahan Abbasiyah. Selama mengendalikan kekuasaannya di Baghdad, Dinasti Buwaihi turut berjasa mengembangkan supremasi peradaban Islam di bidang ilmu pengetahuan dan sastra.

Sederet ilmuwan, pemikir dan ulama besar lahir di era kekuasaan Buwaihi di kota Baghdad. Ulama, pemikir dan ilmuwan penting yang muncul di era kejayaan Buwaih antara lain; Al-Farabi (wafat 950 M), Ibnu Sina (980-1037 M), Al-Farghani, Abdurahman Al-Shufi (wafat 986 M), serta Ibnu Maskawih (wafat 1030 M).

 

Sumbangan ilmuwan dan intelektual yang berada dalam lindungan dan dukungan para penguasa Buwaihi ini bagi pengembangan ilmu pengatahuan sungguh sangat besar. Tak cuma itu, Philip K Hitti dalam bukunya History of Arab juga mencatat peran penting Bani Buwaih dalam pembangunan di kota Baghdad.

Menurut Hitti, di era kekuasaannya, para penguasa Buwaihi berhasil membangun masjid, rumah sakit, serta kanal-kanal. Pembangunan infrastruktur itu turut membuat sektor ekonomi, pertanian, perdagangan dan industri menggeliat.

Menurut Ensiklopedi Britannica Online, penguasa Buwaihi sempat membangun bendungan jembatan yang membelah Sungai Kur dengan Shiraz. Jembatan itu mampu menyambungkan Dinasti Buwaih dengan dinasti dan kerajaan lainnya seperti Samanid, Hamdaniyah, Bizantium dan Fatimiyah. Penguasa Buwaihi pun turut menopang geliat seni dan kesusasteraan.

Dinasti Buwaihi menjadikan kota Rayy dan Nayin di Iran serta Baghdad di Irak sebagai pusat kebudayaan. Ferdowsi (935-1020) dan Mutanabbi adalah dua pujangga yang termasyhur dengan karya sastra yang indah dan menawan. Pada zaman itu, juga berkembang pesat industri permadani.

Dalam bidang seni rupa, dinasti ini juga termasyhur dengan keramiknya yang indah bernama Gabri. Buwaih pun dikenal dengan kaca dan gelasnya yang menawan. Tak cuma itu, di masa kejayaan Buwaih juga berkembang seni dan kerajinan logam, khususnya perak. Para seniman Buwaih mengadopsi teknik dan motif kerajinan perak yang ditinggalkan orang Sasanid – Persia sebelum Islam.

Ciri khas kerajinan perak yang dikembangkan para seniman Buwaih biasanya dihiasi dengan motif binatang buas, burung serta musisi. Motif hiasan itu dilukis dengan gaya tradisi orang Sasanid. Pencapaian itu membuktikan betapa seni dan kesusasteraan mendapat tempat yang terhormat pada zaman itu.

Bidang Filsafat

Dalam bidang studi filsafat, Dinasti Buwaihi melahirkan dua filsosof besar dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya adalah Al-Farabi dan Ibnu Miskawaih. Al-Farabi dikenal sebagai  The Second Teacher alias Mahaguru kedua. Dedikasi dan pengabdiannya dalam filsafat dan ilmu pengetahuan telah membuatnya didaulat sebagai guru kedua setelah Aristoteles – pemikir besar zaman Yunani.

Sosok dan pemikiran Al-Farabi hingga kini tetap menjadi perhatian dunia. Dialah filosof Islam pertama yang berhasil mempertalikan serta menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam. Sehingga, bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Pemikirannya begitu berpengaruh besar terhadap dunia Barat.

Menurut Ibn Al-Nadim, Al-Farabi berasal dari Faryab di Khurasan. Faryab adalah nama sebuah provinsi di Afganistan. Keterangan itu diperoleh oleh Al-Nadim dari temannya bernama Yahya ibnu Adi yang dikenal sebagai murid terdekat Al-Farabi. Sejumlah ahli sejarah dari Barat, salah satunya Peter J King juga menyatakan Al-Farabi berasal dari Persia.

Berbeda dengan pendapat para ahli di atas, ahli sejarah abad pertengahan, Ibnu Khallekan mengklaim bahwa Al-Farabi lahir di sebuah desa kecil bernama Wasij di dekat Farab ( sekarang Otrar berada di Kazakhstan). Konon, ayahnya berasal dari Turki. Menurut Encyclopedia Britannica, Al-Farabi juga berasal dari Turki atau Turki Seljuk.

Sedangkan, Ibnu Miskawaih dikenal sebagai guru ketiga setelah al-Farabi. Ia adalah seorang ilmuwan agung kelahirkan Ray, Persia (sekarang Iran) sekitar tahun 320 H/932 M. Ia merupakan seorang ilmuwan hebat, bahkan ia juga dikenal sebagai seorang filsuf, penyair, dan sejarawan yang sangat terkenal.

Ia terlahir pada era kejayaan Kekhalifahan Abbasiyyah. Ibnu Maskawaih adalah seorang keturunan Persia, yang konon dulunya keluarganya dan dia beragama Majuzi dan pindah ke dalam Islam.  Ia  merupakan seorang yang aktif dalam dunia politik di era kekuasaan Dinasti Buwaihi, di Baghdad.

Ibnu Miskawaih meninggalkan Ray menuju Baghdad dan mengabdi kepada istana Pangeran Buwaihi sebagai bendaharawan dan beberapa jabatan lain. Dia mengkombinasikan karier politik dengan peraturan filsafat yang penting. Tak hanya di kantor Buwaihi di Baghdad, ia juga mengabdi di Isfahan dan Rayy. Akhir hidupnya banyak dicurahkannya untuk studi dan menulis.

Ibnu Miskawaih lebih dikenal sebagai filsuf akhlak (etika) walaupun perhatiannya luas meliputi ilmu-ilmu yang lain seperti kedokteran, bahasa, sastra, dan sejarah. Bahkan dalam literatur filsafat Islam, tampaknya hanya Ibnu Miskawaih inilah satu-satunya tokoh filsafat akhlak.

Semasa hidupnya, ia merupakan anggota kelompok intelektual terkenal seperti al-Tawhidi and al-Sijistani. Ia  menghembuskan nafas terakhirnya di Asfahan 9 Safar 421 H (16 Februari 1030 M).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement