Selasa 20 Mar 2012 01:10 WIB

Melihat Jejak-jejak Rumi di Konya (II)

jalaluddin rumi
Foto: turkeyworld
jalaluddin rumi

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Arys Hilman Nugraha

Orang-orang memanggil pujangga besar itu dengan nama Maulana (Tuanku). Dia lahir pada 1207 di Balkh, Afghanistan --dan karena asal-usulnya itu, orang-orang Afghanistan lebih suka menyebut Jalaluddin Rumi dengan nama Balkhi.

Ayah Rumi, Bahauddin Walad, adalah seorang sufi terkemuka di Balkh. Namun untuk menghindari invasi bangsa Mongol, pada 1220 Bahauddin memutuskan untuk membawa hijrah keluarganya. Mereka hijrah melalui Iran dan Syria, di mana Rumi sempat mempelajari sejarah dan literatur Arab.

Mereka kemudian menuju Anatolia, kawasan yang tak tersentuh bangsa Mongol, dan menetap di Laranda (sekarang bernama Karaman) pada 1221. Selama tujuh tahun, keluarga Bahauddin tinggal di sana dan membina hubungan erat dengan Sultan Seljuk, Alauddin Kaykobad.

Di kota yang sama, Rumi menikah pada 1225, dan anak pertamanya yang kemudian hari jadi penyair terkenal juga, Sultan Walad, lahir setahun kemudian. Tahun ketujuh di Anatolia, Sultan Seljuk mengajak keluarga Bahauddin tinggal di Konya. kemudian mengajaknya tinggal di Konya. Bahauddin menerima undangan sultan itu, dia menjadi guru di Konya pada 1228 hingga meninggal pada 1231.

Rumi kemudian mengambil alih sekolah ayahnya dan dengan segera membuatnya jadi sekolah dengan reputasi tinggi di Konya. Rumi mulai memperkenalkan seluruh aspek filsafat dalam pendidikannya dan mengajarkan karya-karya pengarang klasik dunia.

Pendalaman tasawuf ia mulai ketika kawan seperguruan ayahnya, Burhanuddin Muhaqqiq, tiba di Konya pada penghujung 1230-an dan memperkenalkannya pada sufisme dan idea-idea ayahnya. Rumi pun mempelajari karya-karya sastrawan Persia Hakim Sanai dari Ghazna.

Penghindaran atas serdadu Mongol akhirnya sia-sia. Pada 1235, Anatolia diduduki balatentara dari timur itu. Suasana menjadi kacau balu dan penuh ketidakpastian. Namun pada masa itulah, sekitar 1244, Rumi bertemu Shamsuddin Tabriz yang mengubah jalan hidupnya.

Diskusi-diskusi tasawuf segera terjalin antarkeduanya. Konon, kedua sufi bisa menghabiskan waktu berhari-hari berdua tanpa makan, minum, atau kebutuhan jasmani lainnya. Diskusi-diskusi itu membawa Rumi ke dalam dunia cinta mistis. Namun hubungan dengan Shams akhirnya juga menimbulkan kecemburuan pada para pengikutnya, karena dia mulai meninggalkan perguruannya dan jarang muncul di muka umum.

Shams akhirnya meninggalkan Konya. Dan dalam keterpisahan itu, Rumi berubah haluan menciptakan puisi yang melantunkan rasa cinta, dengan diwarnai tarian berputar dan alunan musik. Rumi sendiri mengaku tak memahami perubahan pada dirinya. Ia mengatakan, jiwa yang dicintainyalah yang membuatkannya lagu, bukan dia sendiri.

Ketika mendengar Shams berada di Damaskus, Rumi segera menyuruh anak sulungnya, Sultan Walad, untuk mengajaknya kembali ke Konya. Rumi kemudian menjodohkan Shams dengan salah seorang anak angkatnya dan mereka tinggal bersamanya.

Kembali percakapan spiritual yang intens mereka jalani. Dan kembali kecemburuan menyeruak di kalangan pengikut Rumi. Lalu Shams menghilang secara misterius pada 1248, seperti saat kedatangannya pertama kali. Ada dugaan, Shams dibunuh para pecemburunya. Tapi Rumi tak pernah mempercayai itu, dan terus mencarinya.

Perasaan damai baru muncul setelah Rumi bertemu Salahuddin, seorang perajin emas yang buta huruf. Salahuddin menjadi cerminan diri Rumi: dalam kesederhanaan yang tulus, dia memahami Rumi tanpa perlu bertanya. Salahuddin menjadi inspirator kedua karya-karya Rumi setelah Shams. Dan untuk menguatkan ikatan persahabatan mereka, Rumi menikahkan Sultan Walad kepada anak perempuan Salahuddin. Surat-surat Rumi kepada menantunya kemudian menunjukkan nilai kemanusiaan yang indah dari Rumi.

Sumber inspirasi ketiga dari karya Rumi adalah Husamuddin Jalabi. Persahabatan Rumi dengannya antara lain menghasilkan karya terbesarnya, Masnawi-i Ma'nawi, berupa kumpulan 25.600 puisi dalam enam jilid buku. Kumpulan tersebut berisi pengalaman-pengalaman ekstatisnya dalam bentuk inkonvensional yang hingga kini masih sulit dipahami para analis barat.

Rumi wafat pada 17 Desember 1273. Kematian sang mahaguru itu ditangisi tidak hanya oleh warga muslim Konya, tapi juga banyak orang Kristen dan Yahudi. Rumi sendiri, sebelum wafat, berkata, ''Kematian adalah penyatuan diri dengan Tuhan.''

Putranya, Sultan Walad, melanjutkan pekerjaan Husamuddin mengumpulkan karya-karya Rumi. Walad juga menghimpun para pengikut Rumi ke dalam sebuah tarekat Mevlevi. Dia juga menggenapkan tarian mistis Rumi ke dalam bentuk yang bisa dinikmati kini, dengan nama Samaa, yang dikenal di Barat sebagai Whirling Dervishes.

Karya-karya Rumi bisa dipisahkan pada dua bagian: puisi liris yang lahir dalam masa persahabatannya dengan Shams dan terkumpul pada lebih dari 36 ribu puisi yang disebut Diwani- Shams-i Tabriz, dan suatu didaktik Masnawi-i Ma'nawi dengan jumlah sekitar 25.600 puisi, ditulis dalam bentuk bersahaja, namun hingga kini masih sulit dipahami para peminatnya.

Whirling Dervishes Tarian terkenal itu, dalam fungsi ritualnya dan bukan pariwisata, biasanya dipergelarkan di ruangan yang disebut Samaahane. Inilah tarian yang melambangkan penyatuan mistis dengan Tuhan dan pencapaian kesempurnaan tertinggi.

Para sufi yang terlibat dalam tarian ini biasanya mengenakan jubah putih -- sebuah perlambang warna pakaian kematian (kain kafan) dalam Islam. Pada awal tarian, pakaian putih ini diselubungi jubah hitam, yang melambangkan pusara. Mereka pun mengenakan tutup kepala yang tinggi dan bundar, berwarna coklat atau putih, memperlambangkan batu nisan mereka.

Tarian berawal dengan gerak para sufi mencium tangan pimpinan mereka. Kemudian mereka menanggalkan jubah hitam sebagai perlambang pemisahan mereka dari pusara da kesiapan untuk menari bagi Tuhan. Mereka mulai berputar secara perlahan. Tangan kanan dengan telapak menghadap ke atas di muka sedangkan di belakang tangan kiri dengan menghadap ke bawah. Itulah simbol bahwa apa yang mereka dapatkan dari kemurahan dan kasih sayang Tuhan mereka sebarkan ke seluruh semesta.

Lalu mereka berputar kian cepat, dan terus kian cepat. Dan lewat tarian itulah, para sufi mencapai suatu trance yang terkendali untuk mencapai dan menyentuh puncak kesempurnaan: penyatuan diri dengan Tuhan. Sejak Rumi memperkenalkannya dan Sultan Walad mengembangkannya, kegiatan kelompok tarekat Rumi segera menyebar ke seluruh Turki. Pengaruhnya menyentuh bermacam bidang kebudayaan, terutama musik dan puisi.

Bapak sekularisme Turki, Musthafa Kemal, kemudian melarang kegiatan itu pada 1925. Namun sejak 1954, ulang tahun kematian Rumi kembali diperingati di Konya dan tarian Samaa melanglangbuana sebagai atraksi wisata. Rumi, bagi para pengamat Barat, bukanlah orang yang cukup peduli kepada alasan perbuatan. Dia, menurut mereka, adalah sosok sebaliknya yang lebih mendasarkan diri pada rasa cinta dan kasih sayang.

Keinginan Rumi hanyalah menyatu dengan Tuhan. Dan menurutnya, Tuhan bukan menjelma dalam alam semesta melainkan dalam hati manusia. Karena itu, menurut Rumi, manusia lebih cenderung menggunakan hatinya dalam berbuat daripada berdasarkan pikiran.

sumber : republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement