Jumat 02 Mar 2012 19:23 WIB

Kitab Al-Washaya, Menuju Insan Ideal (3)

Rep: Nashih Nashrullah/ Red: Chairul Akhmad
Kitab (ilustrasi)
Foto: Wordpress.com
Kitab (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Al-Muhasibi menjelaskan, penyakit fisik yang paling mendasar yang harus dihindari adalah kecintaan dan mengagungkan dunia. Mencinta dunia dapat mengalihkan hak-hak Allah dan melanggar batas-batas yang telah ditentukan-Nya.

Harta merupakan pangkal dari kerusakan di alam semesta. Gara-gara harta, antara satu sama lain kerap saling menghasut, berseteru, dan bunuh-membunuh. Demikian halnya menyangkut persoalan ibadah, belajar, ataupun berinteraksi dengan sesama.

Harta bisa memicu masalah. Akibat harta, integritas dan kesucian ilmu bisa ternoda oleh penyakit yang berbahaya, seperti memperjualbelikan agama untuk dunia. Integritas yang ditawarkan Al-Muhasibi bukan tanpa bukti dan praktik nyata.

Contoh kecil telah ditunjukkannya tatkala menolak menerima harta warisan yang ditinggalkan ayahnya. Penolakan itu didasari atas keyakinan tentang takdir dan mazhab Qadariyah yang dianut oleh sang ayah. Satu sikap wara’, kehati-hatian dan tak mudah terlena oleh gemerlap harta ataupun kekayaan.

Rasulullah sudah pernah menggambarkan hal itu akan terjadi baik yang disebutkan dalam Alquran maupun sunahnya. Salah satunya, sebuah atsar pernah memberikan peringatan jelas tentang umat yang akan terbuai oleh dunia.

Rasulullah bersabda, "Niscaya akan datang setelahku (meninggal dunia) memakan iman kalian sebagaimana api melahap kayu kering.” Riwayat lain mengatakan, bahwasanya tak ada perkara lain setelah perbuatan syirik kepada Allah yang dibenci oleh Sang Khalik selain mencintai dunia.

Wasiat dan peringatan sama juga pernah diterima oleh Nabi Musa AS. Musa diberi peringatan agar tak mudah terjerumus dan terbuai dunia. Karena tidaklah ada dosa besar yang lebih parah jika dibandingkan dengan mencintai dunia.

Al-Muhasibi memproyeksikan kondisi yang ditegaskan dalam berbagai dalil di atas kala itu dan di masa mendatang—telah dan akan terjadi. Kala itu, di masa Al-Muhasibi, batas-batas agama telah banyak dilanggar, syariat Islam dan jalan kebenaran tergantikan oleh hawa nafsu dan kebatilan yang merajalela.

Tak sedikit pengusung kebenaran mulai tersingkir oleh merebaknya para pengikut kebatilan. Situasi dan kondisi di masa itu jauh bertolak belakang dengan kondisi sahabat dan para salaf. Bahkan, Al-Muhasibi pernah mengutip ungkapan salaf yang menyatakan keprihatinan atas perubahan kondisi ini.

Jika seandainya ada satu salaf yang terbangun dari kubur kemudian melihat para cendekiawan, pemimpin, dan ulama, niscaya ia enggan berbicara dengan mereka seraya memberitahu khalayak atas satu fakta, "Tidaklah mereka beriman kepada hari hisab. Hanya kepada Allahlah aku mengadu,” tulis Al-Muhasibi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement