REPUBLIKA.CO.ID, Al-Washaya juga memuat kitab tentang tata cara shalat (fahm as-shalat). Selain itu, dalam kitab At-Tawahhum, Al-Muhasibi secara spesifik menyampaikan nasihat-nasihat, khususnya menyinggung ihwal kondisi di alam barzah dan akhirat kelak.
Antara lain, tentang sakitnya kematian, kondisi kiamat yang mengerikan, siksa bagi orang kafir, serta syafaat dan balasan surga bagi hamba-Nya.
Kumpulan beberapa kitab karya Al-Muhasibi itu oleh seorang muhakik diberi judul Al-Washaya, lantaran kitab itu tak hanya memuat rentetan khutbah atau nasihat kering yang acapkali disampaikan oleh para ulama semasanya.
Lebih dari itu, Al-Washaya dan bahkan hampir keseluruhan kitab karya Al-Muhasibi ditulis sebagai hasil kontemplasi dan pengalaman tajribah atau olah spiritual yang mendalam.
Ketajaman penanya tak cuma menyentuh sisi penempaan jiwa, tetapi juga kental bahasan syariat melalui perspektif ilmu fikih. Hampir tiap kitab yang pernah ditulisnya merupakan dokumentasi hasil percakapannya dengan beberapa tokoh.
Ada yang berupa jawaban atas pertanyaan, adapula analisis pribadi untuk menjawab suatu permasalahan. Sisi inilah yang menjadikan Al-Washaya unggul dibandingkan dengan karya yang pernah ada serta yang ditulis di masa berikutnya.
Konsep insan ideal
Melalui kitab itu, Al-Muhasibi hendak menawarkan sebuah konsep untuk membentuk karakter insan integral, mutakamil. Rumusnya sederhananya adalah bagaimana manusia bisa terbebas dari penyakit hati, baik yang diakibatkan oleh kurangnya persiapan dalam bertasawuf dan bertarekat maupun disebabkan oleh perkara duniawi yang rendah. Dengan kata lain, penyakit fisik ataupun non-fisik.
Kedua sisi ini dalam pandangan Al-Muhasibi harus ditangani secara seimbang. Apabila kedua hal ini bisa terpenuhi seimbang, maka dengan sendirinya agama samawi bisa dipraktikkan pula secara proporsional dan tepat.
Menurut Al-Muhasibi, kunci utama menjaga keseimbangan adalah menundukkan hati. Bagian tubuh ini adalah unsur terpenting dalam diri manusia. Menaklukkan hati bukan perkara mudah, membutuhkan komitmen dan konsistensi tinggi. Resep sederhana yang mungkin ditempuh yaitu memutus mata rantai syahwat dan hawa nafsu.
Menundukkan hawa nafsu dilakukan antara lain dengan membiasakan diri berpuasa dan tidak tamak makan atau minum. Dengan menahan lapar itulah, faktor utama memutuskan hawa nafsu.




