Kamis 01 Mar 2012 15:07 WIB

Kitab Bid’ah At-Tafasir, Kritik atas Tafsir Bid'ah (3)

Rep: Nashih Nashrullah/ Red: Chairul Akhmad
Bid'ah (ilustrasi)
Foto: Blogspot.com
Bid'ah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Menurut Al-Ghummari, ada dua alasan yang menyebabkan tafsir yang diutarakan oleh para tokoh di atas termasuk ketegori bid'ah.

Pertama, kecenderungan tafsir rasional (bi ar-ra’yi) mereka sangat kuat. Tak jarang, dengan dalih ketidakabsahan dan invaliditas mereka sering berpaling dari hadits sahih.

Padahal, kata Al-Ghummari, keberadaan hadits itu berkorelasi lantaran menafsirkan ayat tertentu. Alasan kedua, bisa ideologi yang mendominasi corak penafsiran mereka.

Ideologi itu antara lain konsep adil, Alquran makhluk, otoritas manusia terhadap tindak tanduknya, penafian rukyat, dan kekekalan pelaku maksiat di api neraka, sama halnya dengan orang kafir. "Argumentasi versi mereka pun sering dilakukan dengan memanipulasi dan mendistorsi penafsiran Alquran,” papar Al Ghummari.

Ia mencontohkan, ayat yang berkaitan dengan kemungkinan manusia melihat Allah di akhirat kelak. Bagi Mu'tazilah, istilah yang dikenal dengan rukyat itu tidak masuk akal dan mustahil terjadi.

Atas dasar itulah, mereka menolak hadits yang menjelaskan makna kata tambahan (ziyadah) dalam ayat, "Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus: 26). Hadits riwayat Muslim dari Shuhab menyatakan kata ziyadah dalam ayat itu adalah melihat Allah.

Sikap penolakan itu tak terlepas dari pendapat mereka, nafy ar-rukyat (menafikan rukyat) manusia kepada Zat Allah. Kata ziyadah itu pun kemudian ditakwilkan tak lagi bermakna keutamaan rukyatullah, tetapi telah dialihkan menjadi tambahan pahala.

Kategori tafsir kedua adalah kitab tafsir hasil karya tokoh masa kini. Sederet kitab tafsir tak luput dari kajian kritis Al-Ghummari. Antara lain Al-Mushaf Al Mufassir karya Muhammad Farid Wajdi, Awdlah At-Tafasir karangan Muhammad Abd Al-Lathif Al-Khatib, Tafsir Abu Said Ad-Damanhuri, dan Tafsir Al-Quran Al-Karim li Al-Qiraat wa Al-Fahm Al-Mustaqim karya Abd Al Jalil Isa.

Tafsir yang ditulis oleh Mahmud Syaltut pun tak luput dari analisis Al-Ghummari. Ia juga secara tajam mengkritisi kitab Qashash Al-Anbiya karya Abd Al-Wahab An-Najjar. Al-Ghummari menemukan banyak indikasi bid'ah dari karya sederet nama tersebut. Tudingan bid'ah paling keras diarahkan kepada Abd Al-Jalil Isa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement