REPUBLIKA.CO.ID, Berbagai metode pembelajaran digunakan oleh para cendekiawan dan pengkaji ilmu di masa salaf.
Dalam tradisi ilmiah, penulisan dan pengajaran sebuah kitab antara lain dikenal istilah muqaddimah atau iftitahiiyat. Biasanya, metode itu diterapkan untuk mengkaji kitab tertentu dalam sebuah majelis ilmu.
Dengan muqaddimah, sebuah kitab ditelaah secara integral dan menyeluruh, mulai dari biografi penulis, para perawi, metode penulisan, keistimewaan kitab, dan hal-hal sekunder lainnya berkaitan dengan kitab, seperti penilaian ulama lain terhadap karya tersebut.
Tradisi menulis iftitahiyyat banyak melahirkan karya-karya yang ditulis secara khusus guna memenuhi tujuan itu. Layaknya sebuah kitab entri dasar yang mesti digunakan sebagai bahan bacaan wajib sebelum mempelajari kitab tertentu. Banyak manfaat yang akan diperoleh dengan membaca terlebih dahulu kitab entri (muqaddimah) tersebut.
Keuntungan paling menonjol, murid yang bersangkutan akan mendapatkan gambaran umum tentang kitab yang dipelajarinya. Gambaran ini penting, terutama untuk mempermudah penguasaan kitab yang akan dikaji.
Salah satu kitab yang mengadopsi metode itu adalah kitab Muqaddimah Imla' Al-Istidzkar karangan Abu Thahir Ahmad bin Muhammad bin Ahmad As-Salafi Al-Ashbahani (576 H). Kitab Muqaddimah tak lain adalah kitab entri dasar yang dikarang secara khusus dan spesifik mengkaji kitab Al-Istidzkar fi Syarh ma Rasamahu al-Imam Malik fi Muwatthaihi min ar-Ra’yi wa al-Atsar.
Kitab karangan Abu Umar Ibnu Abd Al-Bar An-Nafmari al-Qurthubi (463 H) itu mensyarah kitab hadis Al-Muwattha’ karya Imam Malik. Metode As-Salafi ternyata cukup efektif memperkenalkan kitab Al-Istidzkar kepada para muridnya dengan mudah dan praktis. Karena bagaimanapun, dasar inilah yang menjadi alasan kuat penulisan kitab Muqaddimah sebelum mempelajari kitab Al-Istidzkar.
Tak mengherankan, apabila lantas kitab Muqaddimah disebut-sebut sebagai salah satu karya pionir—jika tak ingin dikatakan kitab pertama—dengan corak entri (iftitahiyyat) dalam tradisi ilmiah para ulama pada abad ke-6 Hijriah. Sebab, selain kitab ini, As-Salafi mempunyai kitab Muqaddimah lainnya, yaitu kitab Iftitahiyyat yang ditulis sebagai entri poin kajian atas kitab Maalim as-Sunan karangan Al-Khuttabi.
Tetapi, dalam konteks penulisan corak iftitahiyyat, tampaknya kepioniran As-Salafi tak terbantahkan. Karenanya, konsep yang digulirkan banyak diadopsi dan diterapkan oleh para ulama yang datang belakangan.
Adalah Al-Hafidz Ibnu Nashir Ad-Dhin Ad-Dimasyqi (842 H) yang mengarang kitab entri Shahih Al-Bukhari yang berujudul Iftitah al-Qari li Shahih al-Bukhari. Demikian halnya dengan As-Suyuthi (911 H) yang menulis kitab Rafd al-Qari Bima Yanbaghi Taqdimuhu Inda Iftitahi Shahih al-Bukhari.
Dalam kitabnya tersebut, As-Salafi berkisah, awalnya pada 551 H, kitab yang akan dia ajarkan kepada para muridnya di sekolah Al-Adiliyah—kelak madrasah ini disebut As-Salafiyah mengacu pada nama as-Salafi—adalah kitab Al-Muwattha’ itu sendiri.




