Senin 06 Feb 2012 12:00 WIB

Kitab Al-Fath Ar-Rabbani, Petuah Tasawuf Berbasis Tauhid (2)

Rep: Nashih Nashrullah/ Red: Chairul Akhmad
Tauhid (ilustrasi).
Foto: Wordpress.com
Tauhid (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Selanjutnya, Al-Jailani mewanti-wanti agar lebih menyibukkan diri sendiri ketimbang mengurusi kejelekan dan memperbaiki orang lain. Yang paling penting ialah membimbing dan mengarahkan diri dulu.

Tuluskan niat dan bersihkan amal hanya untuk Allah semata. Sebab, akan sangat sulit menyadarkan pihak lain tanpa berbenah terlebih dahulu. Kuncinya ada di hati bukan hanya terungkap di lisan dan tidak perlu diumbar ke khalayak.

Apabila tauhid ada bersamaan dengan syirik kecil, maka itu kemunafikan namanya. Percuma, lisan bilang bertakwa tapi hatinya durhaka ataupun lidah tak henti-hentinya bersyukur tetapi hati tetap berpaling. Sebagaimana firman Allah dalam Hadits Qudsi, “Wahai anak Adam bagaimana mungkin Aku turunkan kebaikan-Ku tetapi kejelekanmu justru mendekati-Ku.”

Ketaatan tak selalu berbuah manis di dunia. Cobaan demi cobaan akan diberikan Allah bagi hamba yang bersungguh-sungguh melakukan olah spiritual dan memurnikan tauhid. Salah satunya adalah ujian kemiskinan. Mengutip sebuah hadits, Al-jailani menyebutkan seorang sahabat datang kepada Rasulullah dan menyatakan bahwasannya dia mencintai Allah. Rasulullah bersabda, “Bersiaplah menjadikan kefakiran sebagi bajumu.” Dalam riwayat lain, “Bersiaplah dengan cobaan-cobaan.”

Bagaimanapun ujian dan cobaan perlu, tujuannya agar tak seorang pun berani mengklaim dan mengaku bahwa dirinya dekat dengan Allah ataupun mendaulat derajatnya telah mencapai tingkat kewalian.

Pentingnya tauhid ditegaskan beberapa kali dalam majelis pencerahan yang dia adakan. Diantaranya pada majelis ke-24, sang penulis menyerukan agar tidak menyekutukan Allah dalam urusan pengaturan alam semesta. Hanya Allah-lah yang mempunyai kekuasaan dan kehendak mengatur alam dan segala isinya. Atau pada majelis ke-26 sebagai contoh, Al-Jailani memberikan nasihat agar tidak mengeluh kepada makhluk sebab tempat mengadu satu-satunya yang paling tepat adalah Allah.

Demikian juga seruan yang termaktub dalam majelis ke-36, kembali ditekankan agar tak henti-hentinya mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya bagi Allah. Bahkan, tauhid kembali ditekankan pada majelis terakhir tepatnya pada hari Jumat bulan Rajab 546 H di Al-Madrasah dengan redaksi yang sangat tegas dan gambalang, yaitu bab tauhid. Al-Jailani mengatakan untuk menauhidkan Allah sampai tidak terdapat sedikit pun unsur syirik di hati.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement