Kamis 26 May 2011 10:20 WIB

Sejarah Para Khalifah: Abdurrahman III, Sang Penyelamat Imperium

Red: cr01
Ilustrasi
Foto: Blogspot.com
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Abdurrahman III adalah orang yang paling cakap dan paling besar di antara para khalifah Bani Umayyah di Andalusia. Dia merupakan khalifah ke-8 yang menduduki tahta pada 912 M saat berusia 23 tahun. Ia memiliki kepribadian kuat, pertimbangan tepat, keteguhan hati, dan keberanian.

Ketika Abdurrahman naik tahta, Bani Umayyah berada dalam keadaan yang paling lemah. Namun ia meninggalkannya dalam keadaan paling kuat. Pemerintahannya membuka pertanda menggembirakan bagi jazirah itu karena menandai fajar kedamaian, kemakmuran dan kemegahan. Sehingga ia disebut sebagai Sang Penyelamat Imperium Muslim Andalusia.

Setelah naik tahta, ia dalam suatu pernyataan menuntut semua warganya untuk tundak tanpa syarat, tanpa memandang kelas. Dia berusaha membuang kebijakan pembangkang dan penjahat dalam pemerintahannya. Rencana besarnya, selain membasmi kekuatan-kekuatan penyeleweng dan pengacau, juga berupaya menciptakan keseimbangan politik, memulihkan perdamaian dan stabilitas dinasti yang tengah kacau.

Abdurrahman membuktikan dirinya sebagai seorang yang terhormat. Dia memiliki keteguhan hati dan keberanian yang menjadi ciri pemimpin di segala zaman. Kebijakan yang menunjukkan keberaniannya adalah memadamkan semua pemberontakan dan menegakkan kekuasaannya dari sungai Ebro sampai Atlantik dan dari kaki pegunungan Pyreneen sampai Gibraltar pada 913 M.

Dia memimpin sendiri tentaranya melawan para pemberontak di selatan. Keinginannya yang nyata untuk bersama-sama merasakan tak hanya kejayaan, tetapi juga keletihan dan bahaya, membangkitkan semangat tentaranya secara luar biasa. Sehingga ia berhasil merebut benteng Ecija, menundukkan Gubernur Sevilla serta menghancurkan musuh Bani Umayyah yang paling bandel, Ibnu Hafishan—sehingga bentengnya (Barbastro) berhasil diduduki. Begitu pula dengan pemberontak-pemberontak di sebelah barat, juga berhasil ditundukkan.

Pada masa pemerintahan Abdurrahman III, ketertiban dan kemakmuran meliputi seluruh imperium. Organisasi polisinya juga sempurna sehingga orang-orang asing atau para pedagang dapat bepergian ke daerah-daerah yang paling sukar dicapai tanpa sedikit pun takut akan mendapatkan penganiayaan atau bahaya. Untuk menyampaikan laporan dengan cepat, kuda-kuda penyambung ditempatkan di berbagai pos.

Berbagai fasilitas umum dibiayai dengan uang negara. Rumah-rumah sakit dan rumah-rumah peristirahatan untuk orang miskin dibangun. Sekolah-sekolah, perguruan tinggi-pergururan tinggi, serta perpustakaan terdapat di mana-mana di seluruh negeri. Perdagangan dan industri, kesenian dan ilmu pengetahuan juga didorong dan dikembangkan.

Sepertiga dari pendapatan negara setiap tahun dibelanjakan untuk memajukan pendidikan dan kebudayaan. Para astronom seperti Ahmad bin Nasar, para filsuf seperti Ibnu Masarrah, dan para dokter seperti Said dan Yahya bin Isyak, muncul dan berkembang pada masa pemerintahan Abdurrahman III.

Banyak karya orang Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dekat Cordoba, ia juga membangun sebuah istana yang indah, Az-Zahra, yang dianggap sebagai suatu keajaiban kesenian Islam. Istana kerajaan ini memiliki 400 kamar yang konon dapat menampung ribuan budak dan pegawai. Istana Az-Zahra terbuat dari pualam putih yang didatangkan dari Nurmidia dan Carthago. Ia juga menerangi sebuah jalan Cordoba sepanjang 16 kilometer dengan cahaya yang begitu terang. Padahal, jalan-jalan yang bagus di Inggris dan Prancis pada saat itu masih langka.

Dengan seluruh pencapaiannya, dapatlah dikatakan bahwa masa pemerintahannya merupakan masa keemasan Andalusia (Spanyol). Dia mengangkat negeri yang berantakan itu ke tempat yang sukar dibayangkan sebelumnya.

Abdurrahman III wafat pada Oktober 961 M. Masa pemerintahannya berlangsung selama 49 tahun. Seperti dituturkan Imam As-Suyuthi, dialah yang pertama kali dipanggil dengan sebutan Amirul Mukminin, bertepatan dengan masa kemunduran Daulah Abbasiyah di Baghdad di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Muqtadir. Sebelumnya, khalifah Daulah Umayyah di Andalusia dipanggil dengan sebutan Amir.

sumber : Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement