Sunday, 17 Rajab 1440 / 24 March 2019

Sunday, 17 Rajab 1440 / 24 March 2019

Veeramallah Temukan Hidayah di Kelas Sejarah

Rabu 19 Dec 2018 06:06 WIB

Red: Agung Sasongko

Muslim India

Foto:
Dari bangku kuliah pula Anjai tahu bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kesetaraan.

Tidak seperti kebanyakan mualaf, Anjai tak mendapatkan respons negatif dari keluarganya ketika memutuskan berislam. “Kedua orang tua saya sudah meninggal saat itu,” katanya. Sementara, adik-adiknya tidak bermasalah dengan keputusan sang kakak. Lagi pula, keluarganya di India sudah lama mengenal Islam. Mereka juga memandang, Islam sebagai agama yang memiliki ajaran positif.

Kini, Anjai merasa bahagia dengan keislamannya. Dia merasa bangga menjadi bagian dari salah satu komunitas agama terbesar di dunia. Di usianya yang semakin tua, dia berusaha meluangkan lebih banyak waktu untuk mempelajari Islam.

Tantangan besar sedang dihadapi Islam saat ini. Tantangan besar itu, menurut Anjai, adalah radikalisme yang telah menumbuhkan citra buruk bagi Islam di mata dunia.

Radikalisme, menurutnya, timbul karena kesalahan dalam menginterpretasikan Islam. “Akhirnya mereka memahami Islam secara berbeda,” katanya.

Karena itu, menurutnya, nilai-nilai agama yang benar harus diberikan kepada setiap Muslim sejak kecil. Anak-anak harus dibuat mengerti bahwa Islam bukanlah satu-satunya agama di dunia ini.

“Kita boleh bilang agama kita paling benar. Namun, bukan berarti menganggap agama orang lain salah. Kita harus mengajarkan anak-anak agar bisa menghargai penganut agama lain,” katanya.

Tantangan Islam lainnya adalah ilmu pengetahuan. Anjai melihat, umat Islam saat ini tertinggal dalam hal ilmu pengetahuan. Padahal, di masa lalu, utamanya di abad pertengahan, Islam pernah berjaya di berbagai bidang ilmu pengetahuan, mulai dari sastra, matematika, kedokteran, sampai astronomi. 

“Sekarang kita ketinggalan jauh. Coba lihat jumlah pemenang Nobel beberapa tahun ke belakang, tidak ada yang beragama Islam. Begitu juga di Olimpiade Sains. Padahal, jumlah Muslim di dunia mencapai dua miliar orang,” katanya.

Karena itu, menurutnya, dari pada kelompok radikal tersebut berjihad untuk sesuatu yang salah akan lebih baik bila mereka berjihad untuk mempromosikan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dengan begitu, umat Islam bisa lebih maju. “Kita harus bekerja lebih keras untuk ini.”

Sumber : Oase Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA