Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Jepang Terapkan Kebiasaan Tidur Siang Rasulullah

Ahad 10 May 2015 15:33 WIB

Rep: c94/ Red: Agung Sasongko

Meneladani Rasulullah SAW.

Meneladani Rasulullah SAW.

Foto: 4shared.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebiasaan tidur siang dapat meningkatkan konsentrasi dan penghilang kantuk. Ternyata, kebiasaan ini menjadi rutinitas semasa Rasullullah Muhammad SAW.

"Bahkan ketika zaman penjajahan Hindia Belanda kebiasaan ini telah di lakukan. Saat ini, banyak negara yang mewajibkan pekerjaannya melakukan kebiasaan itu salah satunya Jepang,"kata Pimpinan Lembaga Dahwah Kratif iHaqi, Ustaz Erick Yusuf saat dihubungi ROL, Ahad (10/5).

Pria yang akrab disapa Kang Erick ini menjelaskan, di dalam Islam kebiasaan tidur siang atau Qailullah sudah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Ia menjelaskan, pola hidup Rasullah patut dicontoh sebagai sauri tauladan umat Islam. Pola hidup itu telah dibuktikan oleh banyak ilmuan kesehatan pada fungsi-fungsi orang tubuh manusia.

Kebiasaan tidur siang merujuk pada pola kehidupan Rasul. Dijelaskan dari berbagai hadits, Nabi Muhammad SAW sudah lebih awal tidur setelah menunaikan shalat Isya. Beliau kembali bangun ketika dini hari untuk menulaikan shalat Qiamulail (Tahajud) dilanjut dengan menunaikan shalat subuh.

Selepas itu, beliau tidak tidur melainkan berdzikir hingga matahari mulai menunjukan cahayanya. "Saat itu beliau menunaikan shalat Dhuha untuk mengawali aktifitasnya,"katanya.

Ada kebiasaan Rasul dan para sahabatnya usai menunaikan shalat Dzuhur.  Mereka beristirahat dan tidur dalam waktu singkat di siang atau Qailullah. "Ternyata fungsi ini adalah untuk melepas kantuk dan meningkatkan konsentrasi," ujarnya.

Kang Erick mengatakan, tidur Qailullah di zaman Rasul adalah sunnah-nya yang patut dicontoh. Hanya saja, kata dia, waktu tidur hanya berkisah 10 sampai 15 menit. "Jadi bukan tidur seharian ya. Itu salah," ucapnya.

Tidur Qailullah, kata dia, selain diterapkan semasa penjajahan Hindia-Belanda dan negara-negara di duna. Hal serupa dapat ditemui Di Indonesia. "Kebiasaan itu ada di masyarakat daerah Kupang,"kata Kang Erick.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA