Jumat 29 Dec 2017 04:46 WIB

Toleransi, Bukti Kedamaian Islam

Rep: Mgrol97/ Red: Agus Yulianto
Mencintai Nabi Muhammad SAW (ilustrasi)
Mencintai Nabi Muhammad SAW (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam, mengayomi semua manusia tanpa mengenal ras, suku, dan agama. Adalah Rasulullah SAW teladan yang utama, beliau memiliki toleransi yang tinggi terhadap orang-orang yang berseberangan dan berbeda secara keyakinan. Rasulullah SAW tidak pernah memaksakan kehendaknya agar orang lain mengikuti ajarannya.

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Mumtahanah: 8)

Dikutib dari buku yang berjudul ’99 Resep Hidup Rasulullah’ karya Abdillah F. Hasan, ketika mendakwahi pamannya Abu Thalib, beliau tidak menggunakan bujuk rayu dan kekerasan. Terhadap orang kafir dzimmi (yang berada dalam lindungan negara), Beliau tetap menghargainya dan melindungi hak-haknya, sebagaimana kaum muslimin yang lain.

Hingga Beliau mengatakan, “Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.”

Suatu ketika utusan Nasrani dari Habsyah (Ethiopia) datang kepada Rasulullah SAW, Beliau pun menghormatinya, “Mereka adalah orang-orang yang dihormati di lingkungannya. Maka aku ingin menghormati mereka oleh diriku sendiri,” kata Rasulullah SAW.

Tatkala Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, banyak orang Yahudi yang sudah menetap di sana. Tapi, Beliau tidak mengusirnya, malah berinteraksi dengan mereka dan membuat perjanjian. Di antara isinya berbunyi, “Orang Yahudi mempunyai (hak melaksanakan) agama mereka dan kaum muslimin mempunyai (hak melaksanakan) agama mereka.”

Saat ada Yahudi yang meninggal pun, beliau tetap memberikan penghormatan sampai ada sahabat yang bertanya, “Wahai Rasulullah, jenazah itu adalah jenazah Yahudi.” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya kematian itu menggetarkan, maka jika kalian melihat iringan jenazah berdirilah.”

Kepada tetangganya, (baik kafir atau bukan) Rasulullah  SAW bersikap bijaksana dan menjauhi permusuhan apalagi sampai melukai perasaannya. Sabda beliau, “Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman” Beliau pun ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Jawab Beliau, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”

Namun jiika perbedaan akidah itu berbuah peperangan dan permusuhan yang nyata, maka kita perlu bersikap tegas. Jika tidak ada perlawanan, mereka akan semakin merajalela. Dalam hal ini, perlawanan dengan berjihad bukanlah perbuatan terkutuk, namun menjadi tindakan mulia, sebagaimana perintah Allah dalam Alquran, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-Baqarah: 190)

Toleransi kepada pihak lain, bukannya tanpa batas, Allah SWT dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk bersikap proporsional. Warna rambut dan kulit boleh tidak sama, keyakinan boleh berlainan, status sosial dan politik silakan berbeda, tapi kebersamaan dan kedamaian harus dijunjung tinggi, sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkannya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement