Rabu 19 Dec 2018 21:12 WIB

Gus Mus: Banyak yang Masuk Islam Berkat Sastra Alquran

Alquran selain mukjizat sastra juga mengajarkan kelembutan tak hanya fikih.

Penyair yang juga pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang, Jateng, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) membacakan puisi saat acara 'Doa untuk Palestina' di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Kamis (24/8).
Foto: Antara/Zarqoni Maksum
Penyair yang juga pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang, Jateng, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) membacakan puisi saat acara 'Doa untuk Palestina' di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Kamis (24/8).

REPUBLIKA.CO.ID, SITUBONDO— Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang, Jawa Tengah KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus mengatakan, kitab suci Alquran yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW merupakan mukjizat sastrawinata yang sangat indah hingga tiada tandingannya.

Sastra, katanya, merupakan puncak peradaban tertinggi manusia karena prosesnya melibatkan akal atau pikiran dan hati atau rasa.

Namun, kata Gus Mus, Islam yang panduan dasarnya berupa kelembutan, kini berubah menjadi lain karena orang mengira bahwa kitab suci Alquran itu seperti fikih yang hanya berisi aturan hitam putih.

Menurut Gus Mus, dulu banyak orang masuk Islam karena tertarik dengan akhlak Rasulullah yang jujur dan lemah lembut sikapnya.

"Namun ada juga yang masuk Islam karena tertarik dengan keindahan bahasa Alquran," katanya di arena Muktamar Sastra Nusantara di Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Rabu (19/12).  Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy mengemukakan kini ada kecenderungan bahasa sastra diseret-seret untuk kerusuhan.

Padahal, tambahnya pada pembukaan Muktamar Sastra Nusantara 2018 di Ponpes Sukorejo, Situbondo, Rabu, sastra seharusnya menjadi bagian dari pemecahan masalah.

"Semua persoalan bisa diselesaikan dengan rumusan Alquran yang bahasanya menggunakan bahasa sastra," ujar kiai yang dikenal sebagai sastrawan itu.

Lulusan Pascasarjana Universitas Ibrahimy itu mengemukakan sebagai generasi Jabal Nur atau yang tercerahkan, lewat muktamar ini ingin berbuat sesuatu yang mampu membawa keadaan lebih baik.

"Semoga muktamar ini menjadi titik bak dari bismillah, untuk melakukan langkah-langkah di kemudian hari. Kami sadar, kami bagai titik kecil dalam basmalah. Titik ini harus menjadi Alif, bak, tak, tsak dan seterusnya. Muktamar Sastra ini harus dilanjutkan kelak. Juga oleh kementerian yang tujuannya untuk bangsa ini," jelasnya.

Muktamar yang digagas Kiai Azaim dan didukung oleh LTNU Jatim dan TV9 Nusantara ini digelar dengan menghadirkan sejumlah sastrawan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Sejumlah sastrawan besar yang akan mengisi kegiatan itu antara lain, KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, D Zawawi Imron , Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, Sosiawan Leak.

Sejumlah akdemikus sastra juga dihadirkan, seperti Prof Dr Abdul Hadi WM, Maman S Mahayana, Prof Dr Setyo Yuwono Dudukan, Dr Tengsoe Tjahyono, Dr Sutejo dan lainnya.  

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement