Senin 20 May 2019 21:00 WIB

Utsmaniyah Ciptakan Desain Baru Karpet

Hingga kini, bahkan tak ada yang menandingi karpet buatan Turki selain karpet Persia.

Muslim Belgrade Serbia menyiapkan karpet untuk Shalat Jumat di depan masjid yang telah dirobohkan oleh pemerintah setempat di Disktrik Zemun Polje, Belgrade, Serbia, Jumat (2/7). Pemerintah menganggap bangunan didirikan secara ilegal sehingga harus dirobohkan/
Foto: Marko Djurica/Reuters
Muslim Belgrade Serbia menyiapkan karpet untuk Shalat Jumat di depan masjid yang telah dirobohkan oleh pemerintah setempat di Disktrik Zemun Polje, Belgrade, Serbia, Jumat (2/7). Pemerintah menganggap bangunan didirikan secara ilegal sehingga harus dirobohkan/

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Di bawah pengaruh karpet Persia pada abad ke-17, kaum Turki Utsmani menciptakan desain baru, antara lain berbentuk medali bintang dan pola pendoa. Tampilan motif ini mirip dengan motif era Barok dan Rococo di Eropa pada abad ke-17 dan ke-18 M.

“Sejak 1660, karya seni Islam menginspirasi seni di Prancis dan Inggris sebagai seni dekoratif yang menga gumkan,” ungkap Sweet man, seorang sejarawan.

Baca Juga

Ia mencontohkan, kata Barok yang berasal dari bahasa Portugis, barueco dan bahasa Italia, barocco. Dalam kosakata bahasa Arab juga ditemui kata serupa yang berarti mutiara tak beraturan.

Era Rococo di Prancis terwakili dengan penggunaan bentuk garis lurus dan tipis bersama bentuk cangkang ataupun karang. Bentuk ini menunjukkan kekuasaan Raja Louis XIV serta penghargaan karya seni Turki di negara tersebut.

Perkembangan karpet selanjutnya terjadi pada masa kekuasaan Raja Mamluk di Mesir (1250- 1570). Meski hanya tersisa beberapa contoh karpet Mamluk, tapi ada kekhasan motif yang bisa menjadi penanda era itu. Karakter karpet ini ditandai dengan desain garis berbentuk bintang, segilima, segitiga, dan beberapa bentuk geometris lainnya. Motif Arab dan bunga juga ada.

Pada perjalanan sejarahnya, karpet Mamluk memberi pengaruh pada penggunaan karpet Mesir mulai abad ke- 18 hingga sekarang. Bangsa Turki juga piawai membuat karpet. Hingga kini, bahkan tak ada yang menandingi karpet buatan Turki selain karpet Persia.

Ini karena tradisi membuat karpet telah dikenal ratusan tahun oleh bangsa Persia. Karpet Persia umumnya tampil dengan motif kotakkotak panjang dengan dominasi bulatan. Sementara, sisi pinggirnya dihiasi dengan motif yang juga sangat beragam.

Era Safavid pada abad ke-16 menjadikan karpet sebagai komoditas unggul an. Karpet Muslim diimpor ke Eropa dan menjadi dagangan utama. Karpet di masa itu menjadi barang bernilai tinggi dan tak jarang dijadikan cenderamata oleh para diplomat atau pejabat.

Di masa Pemerintahan Shah Abbas I (1587-1629), ekspor karpet dan perdagangan kain sutra menjadi pendapatan utama negara. Produksi karpet saat itu telah mampu memenuhi permintaan besar pembeli Eropa.

Para pengrajin karpet Persia dari Tabriz, Kashan, Isfahan, dan Kerman membuat motif yang memikat mata dan bercorak cerah. Karpet produksi mereka disukai orang Eropa. Orang Persia andal mengolah objek hewan dan manusia dalam desaindesain karpetnya. Sayang nya, pada awal abad ke-19, industri karpet mengalami penurunan akibat konflik politik antarnegara.

Penyebaran seni pembuatan karpet rajut memang diyakini bermula dari kawasan Timur Tengah. Di abad ke-2 SM hingga ke-3 SM, banyak orang bermigrasi dari Turkestan ke barat, yakni Kaukasus, Persia, Anatolia, atau ke timur, yakni ke Cina dan India. Kawasan ini kemudian dikenal sebagai Sabuk Karpet Oriental. 

Marcopolo, pedagang Venesia sekaligus petualang, ketika suatu kali singgah di Turki mengatakan, “Mereka menenun dan membuat kar pet paling indah di dunia. Mereka juga menenun kain sutra warna merah dan lainnya. Di sana ada juga banyak jenis kain.”

sumber : Mozaik Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement