Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Al-Haytham Cerdas Sejak Kecil

Ahad 19 May 2019 23:51 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilmuwan Muslim.

Ilmuwan Muslim.

Foto: Metaexistence.org
al-Haytham berhasil menempuh pendidikan di Universitas al-Azhar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak kecil, al-Haytham dikenal cerdas. Ia menempuh pendidikan pertamanya di tanah kelahirannya, Basra. Beranjak dewasa, ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basra. Setelah beberapa lama bekerja sebagai pegawai pemerintah di sana, ia memutuskan untuk menimba ilmu ke Ahwaz dan Baghdad.

Kecintaannya pada ilmu pengetahuan membawanya terdampar hingga ke Mesir. Selama di Mesir, ia mendapat kesempatan melakukan beberapa kerja penelitian mengenai aliran Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematika dan ilmu falak.

Baca Juga

Kemudian, al-Haytham berhasil menempuh pendidikan di Universitas al-Azhar yang didirikan Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah itu, secara otodidak, ia mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu, seperti ilmu falak, matematika, geometri, kedokteran, fisika, dan filsafat.

Al-Haytham juga dikenal sebagai ilmuwan yang sangat suka melakukan penelitian. Di laboratoriumnya yang sederhana namun lengkap di Basra, dia melakukan serangkaian penelitian untuk menetapkan sudut pandang dan sudut pantul, pembelokan cahaya dalam air dan kaca, serta berbagai posisi bayangan di atas cermin datar, cembung, dan cekung.

Lewat penelitian-penelitian itu, dia meletak kan dasar-dasar pembuatan lensa kamera. Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Teori yang ditemukan al-Haytham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudian disambung-sambung, dimainkan, dan disa jikan kepada para penonton.

Penemuan al-Haytham lainnya adalah tentang sifat mata yang sebenarnya. Ia berpendapat, sinar cahaya bergerak mulai dari objek dan berjalan menuju mata. Benda akan terlihat karena ia memantulkan sinar ke dalam mata. Retina mata adalah tempat penglihatan dan bukan yang mengeluarkan cahaya. Teori yang dilahirkannya ini mampu mematahkan teori penglihatan dari dua ilmuwan Yunani bernama Euclides dan Ptolemeus, berabad-abad sebelumnya. Mereka berpendapat, benda terlihat karena memancarkan cahaya.

Al-Haytham dikenal sebagai seorang yang teliti dan berhati-hati. Secara serius dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Ia pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayang an, gerhana, dan juga pelangi. Ia juga mencetuskan teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia.

Dia pula orang pertama yang menulis dan menemukan berbagai data penting mengenai cahaya. Konon, dia telah menulis tak kurang dari 200 judul buku. Bukunya yang berjudul Kitabul Manazir telah memberi ilham bagi perkembangan ilmu optik di masa-masa kemudian. Al-Haytham ditahbiskan sebagai ilmuwan optik terkemuka dalam sejarah, sejajar dengan Ptolemeus dan Witelo yang menjadi perintis ilmu optik dunia.

Bradley Steffens, penulis buku Ibnu al-Haytham: First Scientist, menyatakan, di Barat al-Haytham dikenal sebagai Alhazen. Dia dijuluki Bapak Ilmu Eksperimental yang telah melahirkan begitu banyak pemahaman di alam semesta.

Steffens juga mengatakan, al-Haytham sebagaimana ilmuwan Muslim lainnya tidak hanya mengumpulkan dan menerjemahkan karya-karya budaya lain, tapi juga menyerap materi dan mengolahnya dengan kemampuan intelegensia yang dimiliki. Tak hanya mengandalkan kemamuan berpikir, mereka juga tak pernah meninggalkan sisi keimanan dan ketakwannya kepada Sang Pencipta. Hal ini setidaknya ditunjukkan dengan kebiasaan al-Haytham yang juga mendalami teologi, Alquran, hadis, dan hukum Islam. Al-Haytham juga digambarkan menyukai ilmu filsafat.

Menjelang akhir hayatnya, al-Haytham menjadi pengajar di Suriah dan menuliskan karyanya dalam manuskrip. Setidaknya, menurut dokumentasi Ibnu Abi Usaybi'ah, terdapat 182 judul manuskrip. Semuanya di tulis saat al-Haytham menetap di Basra dan Kairo. Yang menyedihkan, setelah kematian al-Haytham, banyak karyanya hilang dan kontribusi keilmuannya diklaim ilmuwan Eropa

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA