Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Agar Lepas dari Kebiasaan Gibah

Ahad 19 May 2019 02:51 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ghibah (ilustrasi)

Ghibah (ilustrasi)

Foto: io9.com
Abu Darda, sahabat Nabi Muhammad SAW, menasihati agar lepas dari kebiasaan gibah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kadangkala, lisan dan tangan tak luput dari perkataan dan perbuatan yang tak perlu. Tidak hanya di interaksi sosial dunia nyata. Di dunia maya pun, diri terkadang lalai sehingga mudah menghakimi orang lain.

Salah satu kecenderungan buruk adalah gibah alias bergunjing. Orang yang melakukannya membicarakan aib atau keburukan orang lain sehingga menyakiti perasaan orang yang menjadi sasaran.

Baca Juga

Abu Darda memberikan nasihat bagi siapapun yang ingin keluar dari kebiasaan gibah. Sahabat Nabi SAW itu berjulukan ahli hikmah.

Dia berpesan, "Carilah kebaikan di sepanjang usiamu. Berharaplah agar Allah menerpamu dengan rahmat-Nya, karena terpaan rahmat itu ditujukan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Mohonlah kepada Allah agar menutupi aib-aibmu, sehingga diri tenteram dan jauh dari rasa takut."

Seseorang yang melakukan gibah biasanya dalam kondisi iman melemah. Lebih parah lagi, dia merasa pribadinya lebih saleh daripada sasaran gibahnya.

Menurut Abu Darda, seorang Muslim hendaknya tidak merasa arogan. Seorang ahli ibadah sekalipun belum tentu pada akhirnya menerima karunia rahmat dan ridha Allah SWT.

Tolok ukur kemuliaan seorang insan adalah iman dan takwa. Dua hal itu sesungguhnya hanya oleh Allah SWT yang mengetahui. Tidak ada kapasitas manusia untuk mengukur ketakwaan orang lain atau bahkan diri sendiri.

Karena itu, tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan orang lain, apalagi sesama Muslimin. "Janganlah kalian mengorek-orek mereka (orang lain) dalam urusan yang sudah menjadi kewenangan Allah. Jaga diri kalian sendiri," pesan Abu Darda.

Diceritakan oleh Abu Qalabah, suatu hari Abu Darda mendapati orang-orang sedang berkumpul. Mereka terdengar mencaci-maki seseorang yang diketahui bermaksiat.

Abu Darda pun mengingatkan mereka. "Apa yang akan kalian lakukan bila melihatnya terperosok ke dalam lubang? Bukankah seharusnya kalian menolongnya agar keluar dari lubang itu?" kata dia.

Mendengar nasihat itu, mereka mengangguk setuju. "Janganlah kalian cela dia. Bersyukurlah kalian karena Allah telah menyelamatkan kalian (dari perbuatan maksiat --Red)," tambah Abu Darda lagi.

"Tapi, apa kita dilarang membencinya?" tanya seseorang di antara mereka.

"Bencilah perbuatan maksiat. Bukan orangnya. Bila dia meninggalkan maksiat itu, maka sambutlah dia sebagai saudara," jelasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA