Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Kisah Pemuda Enggan Mencuri, Justru Jadi Suami Janda Kaya

Selasa 12 Mar 2019 17:12 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Gurun

Gurun

Foto: tangkapan layar Reuters/Zohra Bensemra
Pemuda ini terpaksa hampir mencuri karena sangat lapar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak kisah yang mengungkapkan hikmah di balik kesabaran seorang Muslim. Misalnya, kisah berikut yang terjadi pada era generasi sesudah para sahabat Nabi Muhammad SAW (tabiin).

Baca Juga

Di Damaskus (Suriah), berdirilah Masjid at-Taubah. Masjid itu tersohor antara lain karena dikelola seorang tabiin yang saleh dan alim. Syekh tersebut hidup sederhana, sembari mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada penduduk setempat.

Suatu hari, datang seorang pemuda ke masjid tersebut. Tampak dari penampilannya, pemuda ini tergolong miskin. Dia tiba di Damaskus dalam rangka mencari ilmu (thalab al-'ilm). Tidak ada satu pun sanak famili atau kenalan di kota tersebut.

Sesudah hadirin majelis bubar, pemuda tadi meminta izin untuk bertemu sang syekh. "Wahai, imam. Saya pemuda miskin yang datang jauh-jauh dari luar Damaskus. Saya tidak punya siapa-siapa di kota ini. Namun, saya ingin berguru kepada engkau," katanya membuka pembicaraan.

"Karena itu, apakah engkau mengizinkan saya tinggal bersama engkau? Bolehkah saya tinggal di masjid ini, dan makan serta minum bersama keluarga engkau?" lanjut dia.

Singkat cerita, syekh tersebut setuju. Maka pemuda ini tinggal bersamanya.

Tiga bulan berlalu. Pemuda tadi mendapati kebiasaan zuhud syekh yang tabiin ini. Bila ada rezeki, syekh dan keluarganya makan rutin dua atau tiga kali sehari. Mereka berpuasa bila sedang kekurangan makanan. Pemuda itu pun mengikuti irama kehidupan sang syekh dan keluarga.

Bagaimanapun, kali ini agak berbeda. Sudah tiga hari berturut-turut syekh berpuasa. Mungkin karena sudah kebiasaan, tubuh syekh tersebut tidak terlalu kelaparan. Namun, pemuda tadi tidak kuat. Dia sangat lapar.

Saking laparnya, dia terpaksa mengikat perutnya. Matanya berkunang-kunang. Kepalanya terasa berat.

Saat itulah datang bisikan jahat. Terlintas di dalam benaknya, dirinya kini sudah diperbolehkan secara syariat untuk mencuri makanan sekadarnya.

Bakda isya, pemuda itu melancarkan aksinya. Dia memanjat dinding luar Masjid at-Taubah, yang menempel pada dinding rumah-rumah warga.

Tidak Jadi Mencuri, Malah Jadi Suami

Rumah pertama yang dihampirinya hanya diisi beberapa remaja putri. Dari celah balik atap, pemuda itu mengintip ke dalamnya, tetapi langsung memalingkan wajah dari para perempuan itu. Sebab, tujuannya mencuri makanan. Bukan yang lain-lain.

Dia terus merangkak ke atap rumah berikutnya. Dia mencium aroma makanan, sop terung yang baru saja dimasak. Pelan-pelan, pemuda ini meluncur turun dari atap, lalu masuk ke dalam dapur. Di tengah kegelapan, dia membuka tutup panci, kemudian mengambil terung dari dalamnya.

Saat sedang mengunyah, hampir saja dia menelan terung itu. Tiba-tiba, dirinya dikecam rasa takut kepada Allah. Dia berpikir, "Setan telah berhasil menggodaku tiga hal. Pertama, dia menyuruhku mencuri; lalu melihat perempuan yang bukan mahram, dan memasuki rumah orang lain tanpa izin."

Seketika, pemuda ini memuntahkan terung tadi. Dia lantas mengendap-endap keluar dari dapur itu.

Sesampainya di masjid, dia menemukan sang syekh sedang menerima tamu, yakni seorang perempuan yang bercadar dan dua orang pendampingnya. Pemuda itu tampak tidak terlalu peduli. Perutnya masih sangat lapar, sehingga dia hanya terduduk lemas di dinding, agak jauh dari mereka.

Tiba-tiba, syekh memanggilnya, "Wahai, pemuda. Kemarilah."

"Apakah kamu sudah menikah?" tanya syekh lagi.

"Belum, wahai syekh," jawab pemuda itu, masih dengan wajah sayu.

"Apakah kamu mau menikah?" tanya gurunya itu.

Si pemuda tidak menjawab sepatah kata pun. Pertanyaan itu diulangi sang syekh tiga kali berturut-turut, sehingga muridnya itu "terpaksa" mengeluh.

"Wahai, syekh. Saya datang kepadamu sebagai pemuda yang tidak punya apa-apa. Saya hidup bersama keluargamu. Apa yang engkau makan, itulah yang kumakan. Jika engkau berpuasa, saya pun puasa. Tapi akhir-akhir ini saya benar-benar terbatas. Saya seharian belum makan sama sekali. Bagaimana mungkin saya menikah? Dengan apa saya nafkahi istri saya nanti?" katanya.

"Wahai pemuda. Perempuan yang datang kepada saya ini adalah janda. Dia baru saja menyelesaikan masa iddah. Dia takut akan fitnah, sehingga meminta saya untuk menikahkannya dengan seorang pria," kata sang syekh.

"Karena itu, saya ingin kamu menikah dengannya. Kamu tidak perlu khawatir. Perempuan ini memiliki rumah dan hidup berkecukupan," lanjut dia.

Syekh kemudian meminta persetujuan dari perempuan tadi, yang lantas menyanggupi tawarannya. Pemuda itu pun mengangguk setuju. Maka sang syekh memanggil beberapa orang sebagai saksi. Dia juga mengambil satu buah kendi sebagai mas kawin pemuda tadi untuk sang janda.

Akhirnya, menikahlah mereka. Setelah selesai ijab kabul, syekh pun menyuruh pemuda tadi pergi.

"Pergilah ke rumah istrimu. Kalian berdua kini telah suami-istri," ucap syekh sembari memberi selamat dan mendoakan kebaikan.

Maka pasangan itu berjalan menuju rumah tujuan. Dia melewati satu rumah yang tadinya hampir disatroni si pemuda. Tiba di rumah kedua, perempuan itu mempersilakan suami barunya tersebut masuk.

"Silakan," katanya dengan lembut.

Pemuda itu terkejut karena inilah rumah yang tadi dimasukinya tanpa izin.

"Suamiku, tadi kudengar engkau belum makan sama sekali seharian ini. Duduklah di sini. Aku sudah memasak sup terung di dapur," kata sang istri.

Tak lama, perempuan ini sedikit teriak. Dia terkejut karena mendapati betapa berantakan keadaan dapurnya kini.

Dengan tenang, pemuda ini memanggil istrinya itu, "Kemarilah, istriku."

Maka diceritakanlah kronologi sesungguhnya. Awalnya ia berniat mencuri karena lapar, hingga akhirnya meninggalkan perbuatannya itu --dengan memuntahkan terung ke lantai.

"Wahai suamiku. Engkau telah meninggalkan perbuatan buruk karena sup ini bukan milikmu. Tapi kini Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik. Bukan hanya sup ini, tetapi juga seisi dapur ini, rumah ini, dan aku yang memiliki rumah ini sekarang menjadi milikmu," kata perempuan cantik ini.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA