Selasa 26 Jun 2018 10:29 WIB

Islam Beri Perhatian Kesehatan THT

Para ilmuwan Muslim mengembangkan penyembuhan penyakit THT.

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
Dokter melakukan pembersihan kotoran telinga kepada warga tuna netra saat peringatan Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran di Panti Sosial Bina Cahaya Bathin, Jakarta, Jumat (3/3).
Foto: Republika/Raisan Al Farisi
Dokter melakukan pembersihan kotoran telinga kepada warga tuna netra saat peringatan Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran di Panti Sosial Bina Cahaya Bathin, Jakarta, Jumat (3/3).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengobatan dunia Islam dikenal dengan pengobatan tingkat tinggi dengan memperhatikan observasi klinis dan mengesampingkan mitos serta legenda.

Pengobatan telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) merupakan contoh partisipasi pengobatan dunia Islam dan kontribusi pada studi anatomi, fisiologi, dan penyakit bagi dunia Arab.

Dalam tulisannya, Ear, Nose and Throat Medical Practice in Muslim Heritage, Mostafa Shehata menguraikan, Islam memberi perhatian pada kebersihan mulut, hidung, wajah, dan telinga.

Karena itu, ada kewajiban berwudhu sebelum menjalankan shalat, setidaknya lima kali sehari. Ada pula beberapa sabda Rasulullah SAW tentang pentingnya menjaga kebersihan telinga, hidung, tenggorokan dan pengobatannya jika ketiga organ itu bermasalah.

Selama berabad-abad setelahnya, tepatnya pada masa Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, lebih dari seribu dokter dan ahli medis memimpin perkembangan dunia pengobatan di pusat-pusat peradaban dunia Islam, mulai dari Baghdad, Damaskus, Kairo, Alexandria, Kairouan, Cordoba, Sevilla, dan Valensia. Gang guan THT ditangani di bawah dokter umum, dokter bedah, dan ahli pediatri.

Dengan ide orisinal dan keahlian praktik medis, banyak informasi dan penemuan seputar anatomi THT. Mereka menemukan gangguan-gangguan baru pada THT dan cara baru penyembuhannya. Semuanya terekam pada buku-buku kedokteran yang hingga saat ini masih jadi referensi penting.

Pada awalnya, pengetahuan tentang anatomi telinga, hidung, dan tenggorokan begitu terbatas. Mekanisme pendengaran dan fonasi (proses bersuara) juga masih asing. Dalam hal ini, apresiasi layak diberikan kepada al-Razi (Rhazes), Ibnu Sina, Ali Ibnu Abbas, Abdul Latif al-Baghdadi, Ibnu al-Baladi, Avinzoar, Abulcasis, dan Ibnu al-Nafis yang menulis secara detail mengenai anatomi dan fisiologi THT.

Mereka menuliskan bab khusus tentang ketiga organ tersebut dalam buku-buku mereka. Buku-buku tersebut antara lain al-Hawy karya al-Razi, The Canonoleh Ibnu Sina, al- Kitab el-Malakyoleh Ali Ibnu Abbas, The Compendium in Medicine oleh al-Baghdadi, The Care of Pregnant Women, Infants and Childrenkarya Ibnu al-Baladi, Al-Tayseeroleh Avinzoar, Al-Tassrifoleh Abulcasis, serta Al- Shamel Fi Sinaat Al-Tibbkarya Ibnu al-Nafis.

Anatomi telinga dideskripsikan dengan sangat baik oleh Ibnu Sina. Daun telinga memi liki saluran untuk mengumpulkan gelombang suara. Saluran telinga luar memiliki saluran melengkung untuk melindungi gendang telinga dan menjaga bagian telinga luar tetap hangat. Ini menunjukkan pentingnya menggunakan tetes telinga yang hangat saat terapi.

Gendang telinga sendiri merupakan membran tipis yang merespons gelombang suara. Ibnu Sina juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan bahwa proses mendengar adalah proses diterimanya gelombang suara oleh gendang telinga.

Anatomi faring dan laring juga dijelaskan terperinci oleh Ibnu Sina. Ia menjelaskan kartilago, ligamen, sendi, dan otot yang melekat pada laring. Ibnu Sina juga mengidentifikasi peran faring dan laring dalam fungsi laringeal berbeda.

Ali Abbas al-Baghdadi dan Ibnu al-Nafis merupakan pelopor yang mengoreksi kesalahan pendapat sebelumnya bahwa wajah dan telinga memiliki saraf tunggal yang sama. Mereka membuktikan bahwa wajah dan telinga memiliki dua saraf terpisah.

Ibnu Sidah, ilmuwan dan ahli linguistik yang hidup di abad 10 , menulis sebuah buku berjudul al-Mokhassusyang menjabarkan teknik pidato dan bernyanyi. Ia menjelaskan karakter, tingkat, dan tipe suara manusia. Ia bahkan menambahkan beberapa istilah saintifik untuk mendefinisikan intonasi suara, ritme, senandung, repetisi, dan resonansi.

Ia membuat klasifikasi antara suara merdu, serak, dan melankolis. Studi fonetik lanjutan didalami al-Faraby yang dikenal sebagai filsuf abad 10 yang menulis buku The Great Musician.

Pembahasan penting soal ini juga didapati dari tulisan karya Safa Bersaudara. Mereka adalah sekelompok filsuf Arab yang menulis sejumlah buku seputar pidato dan berbagai topik lain. Mereka menjelaskan tentang suara, pidato dan bahasa.

Studi mereka bisa dikatakan sarat kandungan sains murni dan turut menben tuk sains fonetik masa kini. Gangguan telinga, hidung, dan tenggorokan 

Pada abad pertengahan, belum ada alat untuk mendiagnosis penyakit. Berkat observasi dan kemahiran klinis mumpuni, para ahli dari Arab mampu mendiagnosis berbagai penyakit telinga, hidung, dan tenggorokan yang dikenal hari ini.

Pada awal abad kesembilan, dokumentasi lengkap tentang diagnosis dan penanganan penyakit sudah banyak tersedia dalam berbagai buku. Buku-buku ini kemudian jadi rujukan dunia kesehatan pada abad-abad kemudian.

Al-Razi (850-923 M) menulis buku kedokteran tentang penyakit dan gangguan pada gigi, telinga, hidung, dan tenggorokan. Ia bahkan pernah menggunakan sinar matahari atau bantuan pantulan cahaya cermin untuk memeriksa telinga, hidung, dan tenggorokan pasiennya. Al-Razi juga mendeskripsikan pembengkakan telinga luar dan tengah serta mengu raikan komplikasinya. Pun penyakit pada hidung, mulut, faring, dan laring.

Al-Razi merupakan orang pertama yang mendeskripsikan rhinorrhea musiman dan menjelaskan penyebabnya. Rhinorrhea adalah suatu kondisi di mana rongga hidung dipenuhi sejumlah besar cairan lendir.

Ia juga memiliki studi tentang demam. Al- Razi jadi orang pertama yang membeda kan campak dengan cacar serta mengoreksi kesalahan yang menyebut kedua sakit itu merupakan hal yang sama. Dialah pula dokter pertama yang mengidentifikasi alkohol dan memanfaatkannya untuk antiseptik.

Dalam dunia bedah, al-Razi punya temuan baru. Ia tercatat sebagai dokter pertama yang menggunakan anastesi inhalasi umum dalam bentuk spons anastesi. Spons tersebut direndam dalam larutan opium, henbane, dudaim, dan azalea Alpina. Sebelum dibedah, pasien menghirup spons hasil rendaman tadi.

Penemuan al-Razi yang paling menarik adalah penggunaan tali yang diikat membentuk simpul untuk menghilangkan pembengkakan nasal dan nasofaringeal.

Tali yang diguna kannya diikat sehingga membentuk beberapa simpul mati. Tali ini lalu dilewatkan melalui hidung dan dikeluarkan melalui mulut. Metode ini sama seperti cara kerja gigli saw.

Pengobatan gangguan THT merupakan kontribusi besar dunia Islam bagi peradaban manusia hingga saat ini. Penemuan-penemuan mereka tak bisa dipungkiri turut membantu kebangkitan Eropa. Bahkan, ahli kedokteran Eropa, De Boer mengatakan, ilmu kedokteran tak akan ada sampai dibuat Hippocrates, mati sampai Galen menghidupkan, terpencar sampai al-Razi mengumpulkan, dan kurang hingga Ibnu Sina melengkapinya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement