Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Buruknya Hati yang Terkunci

Jumat 19 Apr 2019 11:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: blog.science.gc.ca
Hati adalah raja, penentu nilai manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nawawi

Hati adalah raja, penentu nilai manusia, demikian ditegaskan oleh Rasulullah SAW. Jika baik segumpal darah itu, baiklah seluruh badannya. Sebaliknya, jika buruk, buruklah seluruh tubuhnya, ingatlah bahwa segumpal darah itu adalah hati.

Dalam Kitab Miftah Daris Sa'adah, Ibn Qayyim Al-Jauziyah memberikan penjelasan mengenai betapa buruknya kondisi hati manusia yang telah terkunci dari memahami kebenaran. Hati yang terkunci akan menjadikan ilmu yang ber ada di dalamnya menjadi gelap, bahkan bekasnya mungkin saja lenyap. "Alhasil, sebab yang seharusnya membuat orangorang beroleh petunjuk kebenaran justru menjadi sebab kesesatan."

Lebih jauh Ibn Qayyim menjelaskan, hati yang ter kun ci akan membuat seseorang tersesat dan akhirnya hati menjadi rusak. Ketika hati rusak, daya nalar juga ikut rusak. Se per ti orang yang mulutnya sakit, daya rasa dari lidah tak lagi dapat bekerja maksimal sehingga makanan seenak apa pun akan terasa pahit dan tidak menarik, sekalipun makanan itu adalah favoritnya saat sehat.

Dengan demikian, jangan pernah lelah memeriksa kondisi hati, apakah selama ini terbuka terhadap ke be naran atau justru menutup diri dari nasihat-nasihat kebenaran. Jika hati ternyata lebih sering mengabaikan bahkan me nolak dan membenci kebenaran, itu sama dengan menjadikan hati terkunci, yang pada akhirnya akal dan pemahaman terhadap ilmu dan kebenaran tercerabut sehingga tidak ada lagi yang bersemayam di dalam hati selain hawa nafsu. "Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah ber iman, kemudian menjadi kafir maka hati mereka dikunci, sehingga mereka tidak dapat mengerti." (QS al-Munafiqun [63]: 3).

Ibn Katsir menafsirkan ayat tersebut bahwa siapa yang berpaling dari kebenaran (keimanan) kepada kekafiran maka mereka telah menjadikan hati terkunci, sehingga kekafiran dianggapnya jalan hidup yang baik. Na'udzubillah. Lebih lanjut, Ibn Katsir menuliskan, "Sehingga Allah Ta'ala mengunci mati hati mereka, sehingga mereka menjadi tidak mengerti sama sekali. Akhirnya, tidak ada satu pun petunjuk yang dapat masuk ke dalam hati mereka dan tidak juga ada kebaikan yang dapat diterimanya, sehingga tidak pernah menyadari dan mendapatkan petunjuk."

Kondisi seperti itu akan menjadikan manusia ke hilangan eksistensinya sehingga mata tidak berguna, telinga tidak bermanfaat, dan hati tidak berfungsi, sehingga Allah memberikan mereka label makhluk yang lebih rendah dari binatang ternak.

Lantas bagaimana agar diri terhindar dari kondisi hati yang terkunci, Imam Ghazali dalam kitabnya Minhajul Abidin memberikan panduan, yakni dengan melawan nafsu. "Berkaitan dengan nafsu maka perlu bagimu untuk selalu menyalahkan dan mencelanya. Engkau bisa mengenali kenakalan nafsumu itu dari kehidupanmu sehari-hari." Hujjatul Islam itu pun memberikan contoh konkretnya seperti pikiran salah dan kotor, aktivitas antisyara', bertingkah lebih buruk daripada binatang di saat nafsu syahwat dan kemarahan memuncak. Menangis meraung-raung jika kehilangan. Angkuh sombong jika mendapat nikmat. Dan, beragam keburukan lainnya yang disebabkan memperturutkan nafsu.n 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA