Selasa 22 Jan 2019 06:14 WIB

‘Surga di Telapak Kaki Ibu’, Apakah Benar Sabda Rasulullah?

Hadis ini diriwayatkan dari berbagai jalur riwayat berbeda yang saling menguatkan.

Anggota Pramuka berpelukan dengan ibunya usai membasuh kaki ibunya dalam acara kwartir nasional gerakan pramuka 'Membasuh kaki Ibu' di Taman Rekreasi Wiladatika, Jakarta Timur, Rabu (21/12).
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Anggota Pramuka berpelukan dengan ibunya usai membasuh kaki ibunya dalam acara kwartir nasional gerakan pramuka 'Membasuh kaki Ibu' di Taman Rekreasi Wiladatika, Jakarta Timur, Rabu (21/12).

REPUBLIKA.CO.ID, Kita kerap mendengar pernyataan ‘surga di telapak kaki ibu’ atau dalam bahasa Arabnya diucapkan dengan kalimat al-jannatu tahta aqdam al-ummahat. Darimanakah sumber pernyataan tersebut? Apakah benar pernyataan tersebut adalah sabda Rasulullah SAW?

Mengutip Lembaga Fatwa Mesir Dar al-Ifta’, pernyataan ini memang disandarkan kepada Rasulullah SAW. Hadis al-jannatu tahta aqdam al-ummahat, diriwayatkan Ibnu ‘Addi dalam al-Kamil, dari jalur Musa bin Muhammad al-Maqdisi dari Ibnu Abbas. 

Redaksi hadis tersebut sebagai berikut: ”Surga itu (berada) di telapak kaki ibu, dari jalur manapun masuk dan dari jalur manapun pula keluar.”

Menurut Ibnu ‘Addi  Musa bin Muhammad a-Maqdisi statusnya adalah munkar (yaitu periwayat yang dikenal lemah meriwayatkan hadis berbeda dengan periwayat yang kuat). 

Redaksi al-jannatu tahta aqdam al-ummahat, berasal dari jalur Anas bin Malik yang dinukilkan oleh sejumlah ulama antara lain Abu Bakar as-Syafi’i dalam ar-Ruba’iyyat, Abu as-Syekh dalam al-Fawaid, al-Qudha’i, dan ad-Daulabi.

Jalur periwayatannya bertemu di Manshur bin al-Muhajir dari Abu an-Nadhar al-Abar. Jalur yang sama disalin oleh al-Khathib al-Baghdadi  dalam al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi dan as-Suyuthi dalam al-Jami’ as-Shaghir. 

Siapakah Abu an-Nadhar dan Manshur?  Dalam Faidh al-Qadir bi Syarh al-Jami’ as-Shaghir, al-Munawi menyatakan bahwa kedua periwayat tersebut tidak diketahui dan derajat hadisnya adalah munkar. 

Kendati demikian, meski hadis dengan redaksi ini deranjatnya adalah lemah, namun ada hadis lain dengan subtansi yang sama statusnya sahih.

Hadis itu diriwayatkan sejumlah kalangan yaitu Imam Ahmad, an-Nasai Ibnu Majah, at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir yang dikuatkan Imam al-Hakim serta ad-Dzahabi. 

Hadis itu dari jalur Mu’awiyah bin Jahimah. Suatu ketika dia mendatangi Rasul dan bertanya, ”Wahai Rasulullah aku hendak berperan, namun aku datang untuk berkonsultasi. ‘Apakah kamu memiliki ibu?’, tanya Rasul. Sahabat tadi menjawab punya. Rasul bersabda: ‘Berbaktilah kepadanya, karena surga itu di bawah kakinya (fainnal jannata tahta rijliha).” 

Makna hadis di atas adalah rasa rendah diri, kepatuhan, dan tidak membangkang kepada ibu adalah faktor penyebab masuk surga.

Kesimpulannya menurut Dar al-Ifta’, pernyataan al-jannatu tahta aqdam al-ummahat, adalah sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari berbagai jalur. Ada yang sahih dan lemah.

Masing-masing saling menguatkan satu sama lain. Yang pasti, subtansi dari hadis itu sama yaitu menyerukan berbakti kepada ibu. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement