Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Mahathir: Islam Bukan tentang Memotong Tangan dan Kepala

Senin 08 Oct 2018 11:38 WIB

Rep: Mimi Kartika/Umi Nur Fadhilah/ Red: Ani Nursalikah

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad

Foto: The Star
Islam sangat peduli terhadap hak asasi manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan, Islam sangat peduli terhadap hak asasi manusia. Islam tidak meminta para pemeluknya masuk ke dalam rumah dan mencari dosa orang lain. Menurut dia, Islam bukan tentang memotong tangan dan kepala.

"Ada berbagai cara hukuman yang jauh lebih ringan, tetapi orang-orang ini ingin melecehkan, ingin memotong tangan orang, kepala orang. Itu tidak islami," kata Mahathir dilansir di The Star, Senin (8/10).

Sebelumnya, Datuk Mujahid Yusof Rawa dalam sebuah wawancara eksklusif dengan The Star mengatakan, harus ada akhir untuk serangan khalwat di tempat pribadi. Khalwat yang dimaksud berati laki-laki dan perempuan bukan mahram berduaan. Ia juga menambahkan, pemerintah mempraktikkan bentuk Islam yang welas asih.

Mahathir menyetujui pernyataan Mujahid tersebut. "Islam tidak meminta kita untuk mencari dosa orang sampai Anda masuk ke rumah orang. Itu bukan Islam," kata dia.

Mahathir mengatakan hal tersebut menanggapi pemerintah yang mempraktikkan bentuk welas asih Islam. Pemerintah Malaysia juga menentang serangan atas khalwat di tempat-tempat pribadi.

Sementara, dalam blognya, mantan menteri Tan Sri Zainuddin Maidin mengatakan, pernyataan Mujahid jelas menunjukkan pendekatan pemerintah Pakatan Harapan dalam pengembangan Islam di Malaysia. Pemerintah dinilai menekankan pada hak-hak individu dan praktik agama yang tidak memerlukan penegakan hukum atau pemolisian moral.

“Di bawah kebijakan ini, penggerebekan khalwat mungkin tidak lagi diperlukan. Hal yang sama dapat dikatakan untuk pemisahan gender saat melakukan pembayaran di pusat perbelanjaan. Ini bukan sesuatu yang baru karena hak-hak seperti itu diabadikan dalam Konstitusi Federal. Tidaklah salah bagi pria mengenakan celana pendek (di atas lutut) serta wanita tidak mengenakan pakaian berdasarkan Islam yang diiklankan di televisi atau di tempat umum,” kata dia.

Ia juga mengatakan, Mahathir telah membuat pilihan yang tepat dalam menunjuk Mujahid untuk bertanggung jawab atas urusan agama. "Dia (Mujahid) memiliki visi untuk mempertahankan pendekatan yang benar untuk konstitusi, yang telah dipraktikkan sejak zaman (perdana menteri pertama) Tunku Abdul Rahman kepada Mahathir," kata Maidin.

Selain itu, Sisters in Islam (SIS) menyambut baik sikap apa yang dilakukan Muslim di balik pintu tertutup bukanlah urusan pemerintah. "Prioritas konsep rahmatan lil alamin (belas kasih untuk semua) mencerminkan posisi Islam yang dewasa sejalan dengan ambisi Malaysia untuk menjadi negara modern dan progresif," kata SIS.

Menurut SIS, ada Muslim yang menderita trauma mengikuti contoh pemolisian moral di lingkungan pribadi dan publik, seperti serangan khalwat dan serangan yang menghukum orang-orang yang tidak berpuasa selama Ramadhan dan menghukum perempuan atas pakaian mereka.

SIS menyebut, masyarakat perlu belajar membedakan antara urusan pribadi individu dan memberantas kasus pelanggaran nyata seperti kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan anak. "Munculnya kelompok-kelompok penjahat kekerasan yang mengikuti jejak otoritas keagamaan tidak hanya merusak tatanan sosial tetapi juga memicu islamofobia di negara ini," kata SIS.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA