Rabu 22 Sep 2010 08:52 WIB

Toleransi Beragama di Indonesia dalam Pandangan Dunia Barat

Rep: Agung Sasongko/ Red: irf
Potret toleransi beragama di Indonesia
Foto: Edwin/Republika
Potret toleransi beragama di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK--Dunia Barat terus saja mempertanyakan toleransi beragama di Indonesia. Media Barat menganalogikan toleransi beragama Indonesia sama seperti yang terjadi di AS. Pro kontra pembangunan Masjid Ground Zero dan kasus HKBP di Bekasi menjadi dasar pertanyaan. Bentukan pertanyaan itu kemudian menjurus pada opini yang menyiratkan organisasi massa Islam tak ubahnya kalangan Kristen konservatif yang kebakaran jenggot.

Kantor berita Reuters mengatakan lenyapnya kasus penyerangan FPI terhadap kelompok waria merupakan bukti ketakutan kalangan Islam moderat yang merupakan mayoritas. Hal yang sama juga dilakukan kalangan pejabat dan kepolisian yang diduga menutup mata. Sementara itu, kembali Reuters berpadangan, sebagian masyarakat yang ingin membubarkan FPI justru meluncurkan kampanye lewat Facebook dan juga mengejek kelompok tersebut melalui Twitter palsu yang menggunakan nama FPI.

Selang pristiwa penyerangan terhadap pendeta HKBP, pendapat Yenny Wahid dari Wahid Institute dinilai sebagai poin adanya persoalan dalam toleransi beragama di Indonesia. Kata anarkis, taliban dan ketakutan merupakan kata-kata yang digarisbawahi media Barat. New York Post secara jelas menuliskan pendapat Yenny Wahid yang mengatakan,"Anarkisme yang mengatasnamakan agama terus meningkat, dan pemerintah terlihat takut dengan kelompok yang mengusung Islam. Kami tidak menginginkan Indonesia seperti Afganistan dibawah kendali Taliban," tulis New York Post, Selasa (21/9).

New York Post juga mengomentari pendapat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilai membingungkan. Di satu sisi, Presiden SBY menyatakan tidak ada ruang bagi kekerasan terhadap siapapun untuk alasan apapun. Sisi lain, Presiden SBY juga mengutuk rencana pembakaran Alquran yang juga diikuti dengan surat Presiden SBY kepada Presiden Obama.

sumber : New York Post
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement