Senin , 04 September 2017, 20:00 WIB

Katarina Terdorong Membaca Alquran

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Agung Sasongko
courtesy onislam.net
Mualaf (ilustrasi)
Mualaf (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi Katerina Caristan, menjadi Muslimah benar-benar sebuah berkah. Sejak memperoleh hidayah Islam pada akhir 2011, perempuan kelahiran Ceko itu seakan menemukan kembali bagian yang hilang dalam hidupnya.

“Islam memberi saya kesempatan untuk memulai lagi kehidupan yang lebih segar. Kini, saya bisa menjadi diri saya sendiri seutuhnya,” tutur Caristan membuka kisah spiritualnya, seperti dikutip Taqwa Magazine.

Sebelum memutuskan menjadi mualaf, Caristan dibesarkan dalam lingkungan keluarga Katolik. Meskipun begitu, dia tidak pernah merasakan hubungan yang spesial dengan agama tersebut. Bahkan, hingga dewasa, Caristan tidak pernah dibaptis.

Pada 1992, Caristan dan keluarganya meninggalkan tanah kelahirannya, Ceko, untuk kemudian hijrah ke AS. Selama berada di Negeri Paman Sam tersebut, ia mencoba menjalin hubungan dengan berbagai gereja yang ada. Tidak hanya gereja Katolik, tetapi juga gereja-gereja Kristen lainnya. Hal tersebut dilakukan Caristan semata-mata untuk mengisi kekosongan spiritual yang dialaminya.

“Saya mencoba membaca Bibel (kitab suci Kristen--Red) untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Namun, saya hanya bisa bingung karena kesulitan memahami isi dan gaya penulisannya,” ujar Caristan.

Perkenalan Caristan dengan Islam dimulai sekitar delapan tahun yang lalu. Ketika itu, ia memiliki banyak teman dari kalangan Muslim. Selama bergaul dengan mereka, Caristan mendapati bahwa ajaran Islam sepertinya begitu melekat di dalam kehidupan mereka. Mulai dari kebiasaan mereka mengenakan hijab, mengucapkan salam kepada sesama Muslim, hingga berpuasa Ramadhan.

“Saya juga punya seorang sahabat perempuan yang mualaf. Setelah memeluk Islam, ia diusir dari rumah oleh ibunya sehingga tidak punya tempat bernaung lagi. Karena iba, saya pun menawarkannya untuk menumpang di rumah saya,” ungkap Caristan.

Akhirnya, jadilah mereka tinggal di bawah satu atap untuk setahun lamanya. Lewat penuturan sahabatnya itu, Caristan memperoleh banyak pelajaran tentang Islam. Bahkan, di hati kecilnya ketika itu mulai timbul keinginan untuk mengenali agama samawi tersebut lebih dekat lagi.