Ahad 31 Dec 2017 10:42 WIB

Imam Shamsi Ali: Antara Islamophobia dan Rasisme

Rep: novita intan/ Red: Muhammad Subarkah
Islam di Amerika
Foto: republika/mardiah
Islam di Amerika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Salah satu di Muktamar IMSA (Indonesian Muslim Society in America) tahun ini adalah Islamophobia: realita atau mitos? Tentu bagi warga Muslim Amerika hal ini menjadi sebuah topik yang sangat relevan, khususnya dalam konteks masa kini.

Menurut Presiden Nusantara Foundation Imam Shamsi Ali, Islamophobia sesungguhnya bukan hal yang baru di dunia dakwah. Justru semua nabi dan rasul menghadapi tantangan yang berat dalam tugas menyampaikan kebenaran kepada umatnya. Bahkan, alamiahnya semakin tinggi derajat nabi dan rasul itu semakin tinggi pulatantangannya.

Mereka bahkan mendapat gelar khusus sebagai ulul azmi (mighty prophets), ujarnya dalam keterangan tulis yang diterima Republika.co.id, Jakarta, Ahad (31/12).

Imajinasi Muslim di Dunia Barat

Sesungguhnya kesalahpahaman dan ketakutan serta kebencian kepada Islam bukan hal baru di Amerika dan di Barat. Kesalah pahaman (miskonsepsi) terhadap Islam sejak dulu. Bahkan, hal ini kerap kali terimajinasikan dalam ragam bentuk, termasuk gambar-gambar di buku-buku studi sosial.

Di sebuah buku referensi studi sosial pernah digambarkan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah orang Islam atau Muslim.

Tapi yang ditampilkan sebagai orang Islam adalah seseorang yang berjanggung panjang, bersorban, berdiri disamping onta di padang pasir, dengan pedang terhunus.

Tentu menggambarkan Muslim sebagai orang Arab bukan masalah. Karena memang banyak saudara-saudara kita yang berbangsa Arab. Tapi kata Arab dalam persepsi sebagian di dunia barat artinya kaku, tidak demokratis, tiada kebebasan, tidak menghormati wanita, tidak toleran, terbelakang, dan selalu berperang.

Maka dengan sendirinya penggambaran Muslim sebagai Arab sekaligus berarti bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang kaku, tidak demokratis, tidak menghargai kebebasan, tidak menghargai wanita, intoleran, terbelakang dan mengajarkan permusuhan dan kekerasan (terorisme), ucapnya.

Imajinasi seperti ini kemudian dalam sejarahnya mendapat justifikasi di dunia modern. Diingatkan pada tahun 70-an dengan revolusi Iran, khususnya dengan peristiwa penyanderaan diplomat Amerika di Teheran.

Imajinasi itu kemudian seolah mendapat justifikasi dengan tumbuhnya kelompok-kelompok mujahidin pasca Perang Afghanistan, hingga terbentuknya kelompok Taliban di Afghanistan, ungkapnya.

Setelah Taliban termarjinalkan atau setelah ada penjinakan, entah dengan apa dan oleh siapa, tiba-tiba kemudian timbul sebuah pembenaran jika Islam adalah terorisme dengan terbentuknya sebuah organisasi yang bernama Al-Qaidah itu. Kata Al-Qaidah ini menjadi sangat populer dengan peristiwa serangan terror ke Amerika pada tanggal 11 September 2001 lalu.

Peristiwa 9/11 itu diproyeksikan oleh sebagian sebagai kuburan Islam dan dakwah di Amerika. Ternyata rencana manusia tidak mampu mengalahkan rencana Allah.

Islam semakin populer dan bahkan semakin menjadi agama yang diminati. Berbondong-bondong bangsa Amerika belajar, bahkan menerima Islam sebagai jalan hidup mereka.

Suasana menjadi semakin kondusif bagi perkembangan Islam di Amerika. Sehingga untuk pertama kalinya dalam pidato pelantikan presiden Barack Obama, Islam disebut sebagai agama Amerika bersama Yahudi dan Kristen.

Tiba-tiba saja pasca terjadinya perang Irak, tanpa diketahui dari mana asal usulnya tiba-tiba timbul kelompok terroris yang konon kabarnya jauh lebih kuat dari Al-Qaidah. Dan dahsyatnya kelompok ini menamai dirinya sebagai Islamic State dengan misi mendirikan khilafah internasional di Irak dan Suriah.

Kehadiran ISIS menggemparkan dunia. Selain karena sangat sadis dan tidak manusiawi, juga karena kemampuan mereka memanfaatkan alat teknologi modern untuk propaganda dan rekruitmen.

Kelompok ini diproyeksikan tidak mengekspor anggota. Tapi mengekspor ideologi ke jantung-jantung yang mereka anggap sebagai musuh, termasuk Amerika dan Eropa. Berbagai insiden, besar atau kecil, kemudian terjadi dan diakui sebagai kejadian yang terinspirasi oleh ISIS, ucapnya.

Setelah ISIS mulai memudar, khusus untuk Amerika, terjadi pergeseran kekuasaan dari mereka yang minority friendly (bersahabat ke minoritas) termasuk Muslim ke mereka yang cukup anti minoritas, termasuk Muslim. Artinya bukan lagi karena ada pembenaran luar.

Tapi memang karena karakter mereka yang cukup anti minoritas dan Muslim.

Kebangkitan White Supremacy (kelompok putih militan) sesungguhnya bukan karena hanya agama.

Atau yang paling substantif dari permasalahannya bukan karena agama. Tapi permasalahan ras yang memang telah menjadi isu sosial turunan di Amerika.

Kita mengenal bahwa sejak beberapa dekade terakhir terjadi perubahan demografis di Amerika dan Barat secara umum, ucapnya.

Kelompok non white yang selama ini dikategorikan sebagai minoritas semakin bangkit, baik secara kuantitasmaupun kualitas.Satu contoh terbesar adalah kemenangan Barack Obama menjadi presiden pertama non white di Amerika Serikat.

Hal itu tentunya juga didukung oleh gelombang imigran yang semakin membesar, khususnya dari negara-negara konflik yang melibatkan Amerika dan negara-negara Barat lainnya.

Hal-hal di atas, ditambah lagi tingkat kelahiran di kalangan minoritas yang diperkirakan dua kali lipat dari kalangan masyarakat putih menjadikan warga berkulit putih merasa terancam.

Perasaan terancam inilah yang membangkitkan semangat nasionalisme di Barat, ungkapnya.

Semangat nasionalisme kaum putih inilah yang mengantar kepada kemenangan Donald Trump, kandidat yang didukung setengah hati oleh partainya sendiri. Tapi karena pesan kampanye yang anti minoritas itu, dengan slogan to make America great again, menjadikan banyak warga putih Amarika mendukungnya.

Demikian pula kaum putih, khususnya orang-orang tua di Inggris menekan diadakannya referendum untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit), karena dianggap lembek dalam menyikapi masalah imigran. Inggris menjadi sangat khawatir jika imigran semakin bertambah maka negara itu akan diambil alih oleh imigran (kelompok non white).

Dari sini bisa dipahami bahwa Islamophobia yang terjadi di Amerika dan dunia barat saat ini telah bergeser dari isu agama ke isu sosial. Di mana kaum mayoritas merasa terancam oleh warga minoritas sehingga melakukan pembelaan atau penyelamatan bahkan dengan cara-cara yang unkonstitusional, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka banggakan dan promosikan di dunia ketiga.

Sehingga tidaklah salah barangkali jika saya menahami bahwa Islamophobia saat ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rasisme yang sedang meninggi di Amerika Serikat, tutupnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement