Ahad , 22 October 2017, 07:56 WIB

Santri tidak Hanya Mereka yang Pernah Belajar di Pontren

Red: Agus Yulianto
ROL/Fakhtar Khairon Lubis
Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin
Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -– Saat ini, seorang yang disebut santri tidak hanya mereka yang pernah belajar di pondok pesantren (pontren), tetapi juga mereka-mereka yang memiliki pemahaman dan cara pengamalan keagamaan sebagaimana layaknya santri, yaitu pemahaman Islam  yang moderat (wasathiah), toleran (tasamuh), yang cinta Tanah Air  karena dasar agama.

“Saya ingin menggarisbawahi adanya kesalahpahaman dalam memaknai santri," ujar Menag usai menggoreskan kalimat Iqra (baca) dimulainya pembuatan komik panjang dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional ke-2 Tahun 2017 di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Sabtu (21/10). 

Menurutnya, seakan-akan santri hanya yang belajar di pondok pesantren, tapi memang awalnya seperti itu. Namun kemudian, Hari Santri adalah tidak semata penghargaan bagi kaum santri yang sekarang maknanya sudah diperluas, tidak hanya mereka yang pernah belajar di pondok pesantren. "Tetapi mereka-mereka yang memiliki pemahaman dan cara pengamalan keagamaan sebagaimana layaknya santri, yang moderat (wasathiah), toleran (tasamuh), yang cinta Tanah Air  karena dasar agama,”  ujarnya

“Jadi amalnya (perbuatannya) ahlakulkarimah yang dipertunjukkan kalangan santri, maka mereka hakekatnya santri juga. Jadi penetapan Hari Santri wujud penghargaan  dan pengakuan negara atas santri yang sumbangsihnya sangat besar kepada bangsa dan negara tetapi juga sekaligus yang tidak kalah penting adalah peneguhan bagi para santri untuk bertanggungjawab terhadap nasib bangsa dan negara ini."

“Jadi kaum santri harus memiliki tanggung jawab yang semakin besar akan keberlangsungan bangsa dan negara,” ujar Menag menegaskan .

Dikatakan Menag, perayaan Hari Santri Nasional tahun ini, memang lebih menitiktekankan kepada rasa. Ini karenama dalam rangkaian peringatan Hari Santri ini, pihaknya ingin tidak hanya mengajak kaum santri, tapi juga masyarakat secara keseluruhan, bahwa dalam mendalami agama, selain juga mengandalkan wawasan, akal pikiran, tetapi juga olah rasa.

“Olah rasa ini penting, karena bagaimanapun beragama itu harus dengan hati dan rasa. Nah ini (pembuatan komik) adalah cara atau simbol kita mengartikulasikan nilai-nilai agama dengan pengartikulasian dalam bentuk teks, gambar, atau visual lainnya. Kalau tahun lalu kita mengadakannya dengan lomba kartun dan cerita pendek, tahun ini bagaimana kaum santri mengartikulasikan dalam bentuk visual yang itu berangkat dari rasa,” ucapnya.

Selain pembuatan komik panjang, sebelumnya, dalam peringatan Hari Santri tahun ini, Kemenag menggelar Malam Puisi yang mengundang dan hadir sejumlah begawan penyair Tanah Air.

Sumber : kemenag.go.id