Kamis , 14 September 2017, 15:31 WIB
Belajar Kitab

Pemimpin yang Lalim

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
Republika/Prayogi
Ilustrasi Kitab Kuning
Ilustrasi Kitab Kuning

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Bagaimana menyikapi seorang pemimpin yang lalim?  Abu al-Khair Badar ad-Din bin Abu al-Ma'mar bin Ismail at-Tabrizi (636 H) dalam kitabnya An-Nashihat li ar-Ra'i wa ar-Ra'yat menjawab atas pertanyaan itu dengan mengacu empat hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah menyatakan, pemimpin adalah payung Allah di muka bumi, tempat berlindung bagi tiap orang yang terzalimi.

Akan tetapi, tidak selamanya para pemegang amanat berbuat adil. Apabila mereka telah bersikap adil dengan melaksanakan amanat rakyat, tentu sikap tersebut dianggap sebagai tabungan pahala dan amal bagi sang pemimpin. Jika menemui tipe pemimpin seperti itu, rakyat wajib bersyukur.

Sebaliknya, apabila didapati pemimpin berbuat lalim, di situlah letak cobaan. Rakyat mesti bersabar. Karena, tatkala seorang pemimpin bersikap tidak adil, sejatinya langit telah bergetar dan Allah mendengarkan doa rakyat yang terzalimi.

Artinya, bagi pemimpin yang tidak mengindahkan keadilan, kemurkaan Allah akan menyertainya. Cepat atau lambat, rahasia Allah akan berlaku bagi mereka yang bertindak lalim.

Untuk menekankan ihwal pentingnya keadilan dalam sebuah komunitas, at-Tibrizi mengawali bab pertama kitab yang ditulisnya itu dengan bab tentang keadilan dan pahala bagi para pelaku adil.

Menurutnya, keadilan merupakan asas bagi tegak atau runtuhnya sebuah negara dan pemerintahan. Pada bab pertama ini, terdapat enam hadis dengan sanad dan matan berbeda yang mempertegas hal itu. Pertama, hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

Disebutkan dalam matan hadis yang bagi at-Tabrizi derajatnya hasan masyhur itu, tidak ada seorang pemimpin, kecuali dia akan dihadirkan dengan tangan terbelunggu pada hari kiamat. Lantas, hanya akan ada dua kemungkinan: belenggu akan terlepas oleh perbuatan adilnya semasa hidup di dunia atau justru semakin dijerumuskan sikap kelalimannya selama berkuasa dulu.

Isi hadis kedua, masih di bab sama, yang diriwayatkan oleh Abu Ubaid meskipun derajat hadisnya gharib lebih memaparkan tentang ciri mudah mengenali pemimpin yang lalim atau tidak. Seorang pemimpin bisa dikatakan lalim dan tidak berpihak kepada rakyatnya apabila banyak pengaduan dan keluhan yang ditujukan kepadanya. Berbagai pengaduan yang ditujukan pada dasarnya kembali kepada prinsip keadilan yang kian diabaikan oleh sang pemimpin.

Oleh karena itu, hadis ketiga mengungkapkan ancaman dan balasan bagi pemimpin lalim dan enggan berbuat adil. Sebuah riwayat yang dinukil Abu Hurairah menyatakan tentang hal itu. Rasulullah SAW bersabda, "Ada empat golongan yang dibenci Allah, yaitu para pembaiat yang kerap bersumpah, fakir yang congkak, orang tua pezina, dan pemimpin lalim."

Sedikit berkomentar perihal derajat hadis, At-Tabrizi menyatakan hadis ini derajatnya hasan sebagaimana dinukil an-Nasai dalam kitab Sunan an-Nasai dari Hamad bin Salmah.

Selanjutnya, bagaimana menyikapi seorang pemimpin yang lalim? Jawaban atas pertanyaan itu secara sekilas termaktub dalam hadis keempat. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah menyatakan, pemimpin adalah payung Allah di muka bumi, tempat berlindung bagi tiap orang yang terzalimi.

Akan tetapi, tidak selamanya para pemegang amanat berbuat adil. Apabila mereka telah bersikap adil dengan melaksanakan amanat rakyat, tentu sikap tersebut dianggap sebagai tabungan pahala dan amal bagi sang pemimpin. Jika menemui tipe pemimpin seperti itu, rakyat wajib bersyukur.

Sebaliknya, apabila didapati pemimpin berbuat lalim, di situlah letak cobaan. Rakyat mesti bersabar. Karena, tatkala seorang pemimpin bersikap tidak adil, sejatinya langit telah bergetar dan Allah mendengarkan doa rakyat yang terzalimi.

Artinya, bagi pemimpin yang tidak mengindahkan keadilan, kemurkaan Allah akan menyertainya. Cepat atau lambat, rahasia Allah akan berlaku bagi mereka yang bertindak lalim.