Kamis 13 Jul 2023 16:14 WIB

Ini Jargon Warga Nahdliyin dalam Membangun Peradaban

Nahdliyin berkomitmen menguatkan keislaman dalam bingkai moderasi dan keindonesiaan.

Rep: Muhyiddin/ Red: Erdy Nasrul
Santri memaknai kitab kuning Lababul Hadist yang dibacakan seorang ustadz di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Malang, Jawa Timur, Rabu (29/3/2023). Kajian dan pemaknaan kitab kuning menjadi tradisi bulan Ramadhan di pesantren tersebut guna memperdalam ilmu agama Islam para santri.
Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto
Santri memaknai kitab kuning Lababul Hadist yang dibacakan seorang ustadz di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Malang, Jawa Timur, Rabu (29/3/2023). Kajian dan pemaknaan kitab kuning menjadi tradisi bulan Ramadhan di pesantren tersebut guna memperdalam ilmu agama Islam para santri.

REPUBLIKA.CO.ID, LAMONGAN -- Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU), KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mengatakan, gagasan yang dimunculkan Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat ini memiliki dua pondasi.

Pertama, yaitu membangun peradaban baru tidak bisa kalau tidak bertumpu kepada tradisi. Kedua, tradisi itu tidak akan bisa menjawab tantangan-tantangan baru kalau tidak bisa melakukan rekontekstualisasi atau revitalisasi.

Baca Juga

Menurut dia, gagasan Gus Yahya tersebut berasal dari jargon atau prinsip warga NU yang sangat terkenal dalam membangun peradaban, yakni ‘Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik’.

“Ini adalah sebetulnya cerminan dari jargon yang sudah kita kenal selama ini, jargon yang merupakan ciri khas masyarakat nahdliyin, yaitu al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Menjaga yang lama yang baik, kemudian mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik,”  ujar Gus Ulil saat menjadi pembicara kunci dalam acara Halaqah Ulama Nasional yang digelar RMI-PBNU dengan Kemenag di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur Rabu (12/7/2023).

 

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik itu juga menjadi tema penting di dalam halaqah-halaqah yang diadakan pada masa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Ketua Umum PBNU. Begitu juga pada masa Gus Yahya sekarang ini.

“Dan insyaAllah akan menjadi tema penting dalam halaqah yang sekarang ini (Di Pesantren Sunan Drajat),” kata Gus Ulil.

Berdasarkan diskusi dengan Gus Yahya selama ini, Gus Ulil pun mencoba menyimpulkan maksud jargon warga NU di atas dalam pikiran Gus Yahya. “Dari percakapan saya dengan beliau selama ini, saya mengambil beberapa kesimpulan. Pertama, sekarang ini kita hidup di dalam lingkungan atau dunia, atau keadaaan atau yang disebut dengan peradaban baru,” jelas Gus Ulil.

Al hadarah al Jadidah (Peradaban Baru) ini memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan peradaban lama (al Hadarah al Qadimah). Misalnya, menurut dia, kitab turots yang selama ini dibaca di pesantren itu merupakan kitab yang muncul sebagai cerminan dari peradaban lama.

“Nah, sekarang kita muncul atau lahir dalam peradaban batu. Tantangannya adalah bagaimana kita membaca kitab-kitab kita, turots kita, tradisi kita, yang merupakan warisan peradaban lama itu di dalam konteks peradaban baru. Ini kalau saya menyimpulkan pikirannya Gus Yahya selama ini,” kata Gus Ulil.

Untuk diketahui, lebih dari 500 ulama Indonesia berkumpul dalam acara Halaqah Ulama Nasional yang digelar di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur. Kehadiran para ulama ini bertujuan membahas tantangan kebangsaan dan keumatan di Indonesia dalam Halaqah Ulama Nasional.

Kegiatan tersebut berlangsung atas kerja sama Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama (Kemenag) dengan Rabithah Ma’ahid Al Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU). Agenda selama tiga hari mulai 11-13 Juli 2023 ini merupakan rangkaian dalam Musabaqah Qira'atil Kutub Nasional 2023 (MQKN 2023).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement