Kamis , 14 September 2017, 15:15 WIB
Belajar Kitab

Keadilan untuk Semua

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
static.hbr.org
Pemimpin yang adil dan menepati janji/ilustrasi
Pemimpin yang adil dan menepati janji/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA  -- Abu al-Khair Badar ad-Din bin Abu al-Ma'mar bin Ismail at-Tabrizi (636 H) dalam kitabnya An-Nashihat li ar-Ra'i wa ar-Ra'yat menekankan ihwal pentingnya keadilan dalam sebuah komunitas. At-Tibrizi mengawali bab pertama kitab yang ditulisnya itu dengan bab tentang keadilan dan pahala bagi para pelaku adil.

Menurutnya, keadilan merupakan asas bagi tegak atau runtuhnya sebuah negara dan pemerintahan. Pada bab pertama ini, terdapat enam hadis dengan sanad dan matan berbeda yang mempertegas hal itu. Pertama, hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

Disebutkan dalam matan hadis yang bagi at-Tabrizi derajatnya hasan masyhur itu, tidak ada seorang pemimpin, kecuali dia akan dihadirkan dengan tangan terbelunggu pada hari kiamat. Lantas, hanya akan ada dua kemungkinan: belenggu akan terlepas oleh perbuatan adilnya semasa hidup di dunia atau justru semakin dijerumuskan sikap kelalimannya selama berkuasa dulu.

Isi hadis kedua, masih di bab sama, yang diriwayatkan oleh Abu Ubaid meskipun derajat hadisnya gharib lebih memaparkan tentang ciri mudah mengenali pemimpin yang lalim atau tidak. Seorang pemimpin bisa dikatakan lalim dan tidak berpihak kepada rakyatnya apabila banyak pengaduan dan keluhan yang ditujukan kepadanya. Berbagai pengaduan yang ditujukan pada dasarnya kembali kepada prinsip keadilan yang kian diabaikan oleh sang pemimpin.

Oleh karena itu, hadis ketiga mengungkapkan ancaman dan balasan bagi pemimpin lalim dan enggan berbuat adil. Sebuah riwayat yang dinukil Abu Hurairah menyatakan tentang hal itu. Rasulullah SAW bersabda, "Ada empat golongan yang dibenci Allah, yaitu para pembaiat yang kerap bersumpah, fakir yang congkak, orang tua pezina, dan pemimpin lalim."

Sedikit berkomentar perihal derajat hadis, At-Tabrizi menyatakan hadis ini derajatnya hasan sebagaimana dinukil an-Nasai dalam kitab Sunan an-Nasai dari Hamad bin Salmah.