Rabu , 16 Agustus 2017, 20:00 WIB
Belajar Kitab

Buanglah Hawa Nafsu

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Agung Sasongko
Republika/Prayogi
Tobat/Ilustrasi
Tobat/Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang alim kelahiran Persia (804-875 M), Abu Yazid al-Busthami mengaku bermimpi bertemu Allah. Pria yang kerap dipanggil Tayfur itu bertanya kepada Sang Pencipta, Bagaimanakah caranya agar dapat sampai kepada-Mu? Allah kemudian menjawab, Buanglah hawa nafsumu lalu datanglah kepadaku.

Pria bernama lengkap Abu Yazid Tayfur bin Isa bin Surusyan al-Busthami itu mengisahkan dirinya melepas hawa nafsu seperti ular melepaskan kulitnya. Seketika itu, semua kebaikan bermunculan. Memerangi hawa nafsu dilakukan dengan meninggalkan yang haram dan hal tidak jelas halal atau haramnya (syubhat), tidak mengharapkan pertolongan makhluk, tidak takut kepada selain Allah, dan tidak iri dengan perkara duniawi.

Pelajaran sufistik di atas berasal dari potongan kitab Futuhul Ghayb Syekh Abdul Qadir Jailani (1077?1166 M). Alim bergelar raja para wali (Sulthanul Awliya) ini menghabiskan waktu hidupnya dengan syiar dakwah kedekatan kepada Allah dan manfaatnya bagi kualitas kepribadian.

Hal itu dilakukannya di saat peradaban Islam berkembang di masa Daulah Abbasiyah, yaitu sekitar abad ke-12 M. Ketika itu, khilafahbanyak menghadapi persoalan disintegrasi. Peperangan terus terjadi untuk mempertahankan kekuasaan. Aliran sesat bermunculan untuk merusak tauhid. Kemudian, ada juga golongan kaya yang hidup bergelimang harta di tengah masyarakat miskin.

Ketika itu, sebagian ulama sangat aktif mendakwahkan ilmu lahiriah dan syariat, seperti fikih, ushul fiqih, dan bahasa. Abdul Qadir jarang menemukan ulama yang menyebarluaskan pemahaman pentingnya dekat dengan Allah dan bagai mana cara menggapai hal tersebut.

Dia kemudian hadir di tengah dinamika dakwah sebagai alternatif bagi masyarakat ketika itu agar mereka mengetahui bagaimana etika menghaluskan dan membersihkan batin sehingga bisa merasakan ketenangan berdekatan kepada Sang Pencipta.