Senin , 02 June 2014, 14:07 WIB

Islam Bersemi di Tatar Sunda (2)

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: M Akbar
Republika/Edi Yusuf
Kemilau Nusantara: Penampilan kesenian terebangan dari Cirebon, Jabar pada karnaval seni budaya 'Kemilau Nusantara 2013' di halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Sabtu (12/10) malam. Dalam acara taunan tersebut, berbagai seni budaya khas daerah di nusantara d
Kemilau Nusantara: Penampilan kesenian terebangan dari Cirebon, Jabar pada karnaval seni budaya 'Kemilau Nusantara 2013' di halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Sabtu (12/10) malam. Dalam acara taunan tersebut, berbagai seni budaya khas daerah di nusantara d

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam "Penyebaran Islam di Jawa Barat", Mumuh Muchsin Z menulis dari sumber lokal diketahui orang yang per tama memeluk Islam di wilayah Sunda adalah Haji Purwa pada 1337 M. Haji Purwa adalah putra Kuda Lalean. Ia masuk Islam melalui interaksi dengan pedagang Arab.

Saat pulang ke Kerajaan Galuh (wi la yah Ciamis sekarang), ia berupaya mengajak adiknya untuk masuk Islam. Namun, tidak berhasil. Ia lalu memilih menetap di Cirebon. Haji Purwa itu iden tik dengan Syekh Maulana Saifud din. Mumuh mengemukakan, Haji Pur wa menjadi orang Islam per ta ma yang menetap di Cire bon yang saat itu dipim pin Juru Labuan Ki Gendeng Kasmaya. Ki Gendeng Kasmaya lalu digantikan Ki Gendeng Sedangkasih, lalu Ki Gendeng Tapa.

Selain Haji Purwa, orang Islam juga masuk melalui para ulama dari Campa yang sudah lebih dulu disentuh Islam pada abad ke-11. Dalam Carita Pur waka Caruban Nagari, disebut Dukuh Pasambangan didatangi guru-guru Islam, salah satunya dari Campa, Syekh Hasanuddin, putra Syekh Yusuf Sidik. Syekh Hasanuddin mendirikan pondok di Quro, Karawang.

Juru Labuan Cirebon kala itu, Ki Gendeng Tapa, mengirim anaknya, Nyi Subang Larang, untuk mempelajari Islam kepad Syekh Quro. Pada 1422 M, Nyi Subang Larang dinikahi dan menjadi salah satu istri Prabu Sili wangi, raja Pajajaran. Kala itu, Cirebon menjadi wilayah di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran.

Nyi Subang Larang dan Prabu Siliwangi memiliki anak, Pangeran Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Pangeran Kean Santang. Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang sempat berguru pada Ki Gendeng Jumajan Jati. Ki Gendeng Jumajan Jati menerima utusan Raja Parsi, Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Nurjati, di Pasambangan. Ia diterima dengan baik oleh Ki Gendeng Jumajan Jati.

Syekh Datuk Kahfi lalu diperbolehkan mendirikan pondok di Bukit Am paran Jati. Ki Gendeng Jumajan Jati meminta Walangsungsang (Cakrabuana) bersama istrinya, Edang Ayu, serta adiknya, Lara Santang, untuk berguru pada Syekh Datuk Kahfi. Walangsungsang lalu digelari Samdullah.

Atas petunjuk gurunya, mereka membuka sebuah wilayah yang awalnya tegal alang-alang pesisir yang lalu menjadi desa yang dikepalai seorang kuwu. Desa ini dinamakan Caruban atau Caruban Larang. Para pedagang di Muara Jari dan Dukuh Pasambangan kemudian pindah ke Pelabuhan Caru ban.