Senin , 02 June 2014, 14:04 WIB

Islam Bersemi di Tatar Sunda (1)

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: M Akbar
Republika/Edi Yusuf
Kemilau Nusantara: Penampilan kesenian terebangan dari Cirebon, Jabar pada karnaval seni budaya 'Kemilau Nusantara 2013' di halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Sabtu (12/10) malam. Dalam acara taunan tersebut, berbagai seni budaya khas daerah di nusantara d
Kemilau Nusantara: Penampilan kesenian terebangan dari Cirebon, Jabar pada karnaval seni budaya 'Kemilau Nusantara 2013' di halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Sabtu (12/10) malam. Dalam acara taunan tersebut, berbagai seni budaya khas daerah di nusantara d

REPUBLIKA.CO.ID, Tanah Sunda yang kini Jawa Barat menjadi bagian penting sejarah Nusantara dengan pelabuhan-pelabuhannya di pantai utara. Jawa Barat juga memiliki kerajaan besar yang sejajar dengan Majapahit, Kerajaan Pajajaran. Islam masuk dan bersatu dengan ke hidupan masyarakat mengganti kepercayaan SangHyang sehingga masyarakat Sunda saat ini identik dengan Islam.

Tiar Anwar Bachtiar dalam artikel nya, "Islamisasi Tatar Sunda: Perspektif Sejarah dan Kebudayaan", menulis jika membicarakan Islam di Tatar Sunda, wilayah yang dimaksud adalah wilayah yang saat ini menjadi Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

Pengaruh historiografi kolonial membuat sejarah penyebaran Islam di wilayah Sunda selalu dibenturkan dengan adat istiadat. Islamisasi di wilayah Sunda lebih merupakan proses pendekatan budaya.

Jika terjadi perang, misalnya, antara Kerajaan Banten dan Kerajaan Sunda, Tiar memandang karena kepentingan politik dibanding mempertahankan budaya. Masyarakat Sunda sendiri meme luk Islam dengan wajar tanpa kekerasan.

Mengutip Nina Herlina dkk dalam "Sejarah Tatar Sunda", Tiar menyebut orang Islam pertama di wilayah Sunda adalah Haji Purwa atau Bratalegawa. Ia merupakan putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora, penguasa Kerajaan Galuh kala itu. Ia memilih menjadi saudagar yang berdagang lintas negara. Melalui pernikahan dengan seorang Muslimah, ia lalu menjadi Muslim dan digelari Haji Baharudin.

Kota-kota pelabuhan, seperti Cirebon, Banten, dan Sunda Kalapa, menjadi bagian penting masuknya Islam pada masa Kerajaan Sunda. Ketiganya menjadi akses interaksi perdagangan dengan berbagai negara, termasuk Cina, Arab, dan India.