Kamis , 31 August 2017, 12:28 WIB

Kurban dan Kebijaksanaan

Red: Agung Sasongko
AP Photo/Adel Hana
Pedagang kurban tengah menanti pembeli di Kamp Pengungsian Bureij, Jalur Gaza, belum lama ini.
Pedagang kurban tengah menanti pembeli di Kamp Pengungsian Bureij, Jalur Gaza, belum lama ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Moch Hisyam

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus." (QS al-Kautsar (108): 1-3). Susunan ayat 1 sampai 3 dari surah al-Kautsar di atas, menunjukkan kebijaksanaan dan keadilan Allah SWT. Allah tidak menetapkan suatu perintah kecuali Dia telah memberikan sesuatu yang dengannya manusia akan mampu melaksanakan titah-Nya.

Ini merupakan salah satu bentuk kebijaksanaan Allah SWT. "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (QS al-Baqarah (2): 286). Karena itu, salah satu hikmah disyariatkannya berkurban pada 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijah adalah Allah SWT hendak mengajarkan kepada kita tentang kebijaksanaan. Tidak berlaku aniaya dan tidak berbuat zalim baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Bentuk nyata bahwa kurban mengajarkan kepada kebijaksanaan dapat kita lihat dari sikap Nabi Ibrahim AS saat beliau mendapatkan perintah menyembelih anaknya, yaitu Ismail yang kemudian diganti oleh Allah SWT dengan sembelihan yang besar. Beliau tidak langsung menyembelih anaknya, tapi ia meminta pendapat anaknya terkait perintah tersebut.

Allah SWT berfirman, "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS ash-Shaffat (37): 102)

Kebijaksanaan merupakan kebajikan yang tertinggi. Ia adalah sikap dasar yang bila semua sikap dilandasi kebijaksanaan maka akan terlahir kebaikan. Sikap bijaksana sangat dibutuhkan, terutama saat menunjukkan keadilan, ketegaran, dan pengendalian diri. Bersikap bijaksana berarti bisa membuat suatu keputusan atau tindakan berdasarkan prinsip-prinsip yang berlaku dan mampu menjalani kehidupan sehari-hari secara cerdas dan penuh pertimbangan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bijaksana didefiniskian: Pertama, selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran; kedua, pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb) apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya. Dari sini bisa kita pahami, untuk menjadi orang bijaksana kita harus memiliki pengetahuan mendalam, ketajaman pikiran, dan kemampuan menguasai diri.

Karena itu, orang bijaksana adalah orang yang memiliki emosi stabil, wawasan luas dan visioner, sehingga ia akan tercegah dari kezaliman, kemarahan, dan kejahilan. Jika semua kita baik sebagai pemimpin maupun masyarakat memiliki sikap bijaksana maka keadilan, saling menghormati dan menghargai akan mewarnai kehidupan kita yang mengantarkan kita kepada kehidupan yang lebih baik.

Untuk itu, mari kita sambut hari raya kurban 1438 H dengan rasa syukur yang dibuktikan dengan melaksanakan kurban dan menggali hikmahnya, agar makna hari raya ini tidak terhenti sampai penyembelihan hewan kurban dan mendistribusikannya. Namun, maknanya tetap melekat sepanjang kehidupan kita di dunia ini yang salah satunya adalah terkait dengan kebijaksanaan. Wallahu a'lam.