REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi datang dengan caranya sendiri. Cahaya perlahan menyentuh bumi, membangunkan kehidupan, dan mengundang manusia kembali menapaki jalan ikhtiarnya. Di antara harapan yang belum terwujud, pekerjaan yang menanti, dan rezeki yang masih menjadi rahasia, Allah seakan mengingatkan bahwa bumi telah dibentangkan sebagai tempat berusaha. Manusia tidak diciptakan untuk hanya menunggu nasib di hadapan pintu yang tertutup, melainkan diberi akal, tenaga, dan kesempatan untuk mencari jalan yang diridai-Nya.
Namun, dalam setiap langkah, ada satu kesadaran yang harus tetap terjaga. Sejauh apa pun manusia berjalan, setinggi apa pun cita-citanya, dan sebesar apa pun hasil pekerjaannya, ia sesungguhnya hidup di atas bumi milik Allah dan menikmati rezeki yang bersumber dari kemurahan-Nya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 15:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Huwal-lażī ja‘ala lakumul-arḍa żalūlan famsyū fī manākibihā wa kulū mir rizqih(ī), wa ilaihin-nusyūr(u).
"Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS. Al-Mulk: 15)
Ayat ini mengandung pelajaran mendalam mengenai hubungan manusia dengan bumi, pekerjaan, rezeki, dan tanggung jawab kehidupannya. Allah mengawali firman-Nya dengan mengingatkan manusia tentang karunia besar yang sering luput dari perhatian, yakni bumi yang diciptakan dalam keadaan memungkinkan manusia hidup, bergerak, bercocok tanam, membangun, dan mencari penghidupan.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa kata żalūlan menggambarkan bumi yang Allah tundukkan dan mudahkan bagi kehidupan manusia. Allah menyediakan jalan-jalan yang dapat dilalui, mata air, tempat bercocok tanam, serta berbagai manfaat yang memungkinkan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, bumi bukan sekadar tempat manusia berpijak, melainkan salah satu wujud kemurahan Allah yang menyediakan sarana bagi kehidupan.
Kemudian Allah berfirman, famsyū fī manākibihā, yang berarti berjalanlah di segala penjurunya. Imam Ath-Thabari dalam Jami' Al-Bayan menjelaskan bahwa kata manākibihā memiliki sejumlah penafsiran, antara lain pegunungan, jalan-jalan, wilayah pinggiran, dan berbagai penjuru bumi. Ath-Thabari lebih menguatkan makna penjuru dan sisi-sisi bumi, yang menunjukkan luasnya ruang bagi manusia untuk bergerak dan mencari penghidupan.
Di sinilah kita menemukan salah satu pesan penting ayat tersebut. Allah telah menyediakan bumi dengan segala kemungkinan yang terkandung di dalamnya, sedangkan manusia diberi kesempatan untuk memanfaatkan karunia itu melalui usaha. Rezeki memang berada dalam kekuasaan Allah, tetapi manusia tidak diajarkan untuk menjadikan keyakinan terhadap rezeki sebagai alasan meninggalkan ikhtiar.
Ibnu Katsir secara khusus menjelaskan bahwa perjalanan mencari penghasilan dan melakukan perdagangan merupakan bagian dari makna perintah berjalan di penjuru bumi. Namun, ia segera mengingatkan bahwa usaha manusia tidak akan memberikan manfaat kecuali apabila Allah memberikan kemudahan dan pertolongan. Karena itu, bekerja dan bertawakal bukanlah dua sikap yang saling bertentangan, melainkan dua hal yang seharusnya berjalan bersama.
Untuk memperjelas hubungan tersebut, Ibnu Katsir mengutip hadis Rasulullah SAW mengenai burung yang memperoleh rezeki karena bertawakal kepada Allah. Burung itu berangkat pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang. Gambaran tersebut mengandung pelajaran indah: burung tidak tinggal diam di sarangnya sambil menunggu makanan datang, tetapi terbang mencari rezeki dengan ketergantungan sepenuhnya kepada ketentuan Allah.
Tawakal, dengan demikian, bukanlah kepasrahan yang mematikan usaha. Tawakal merupakan sikap hati yang mempercayakan hasil kepada Allah setelah manusia menempuh jalan yang dibenarkan dan mengerahkan kemampuan yang dimilikinya. Tangan tetap bekerja, pikiran tetap berusaha, tetapi hati tidak menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk merasa mampu berdiri tanpa pertolongan-Nya.
Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an memberikan penjelasan menarik mengenai perintah famsyū. Menurutnya, bentuk perintah tersebut juga mengandung makna kebolehan dan pengungkapan nikmat Allah, bukan kewajiban bahwa setiap manusia harus terus-menerus bepergian. Allah memperlihatkan betapa luasnya kesempatan yang diberikan kepada manusia untuk memanfaatkan bumi sesuai kebutuhan dan kemampuannya.
Pemahaman ini memperluas cakrawala tadabur kita. Bergerak tidak selalu berarti menempuh perjalanan jauh atau meninggalkan tempat kelahiran. Seorang petani yang mengolah tanah, guru yang mendidik murid, pedagang yang melayani pembeli, penulis yang menghasilkan karya, ataupun seseorang yang mengembangkan pengetahuan sedang menjalankan ikhtiarnya masing-masing. Selama dilaksanakan melalui jalan yang baik, pekerjaan dapat menjadi sarana memperoleh rezeki sekaligus memberikan manfaat bagi sesama.
Sesudah memerintahkan manusia menjelajahi bumi, Allah melanjutkan firman-Nya dengan wa kulū mir rizqih, makanlah dari rezeki-Nya. Perhatikan bagaimana Allah tidak mengatakan bahwa rezeki tersebut semata-mata merupakan hasil kecerdasan, kekuatan, atau kerja keras manusia. Allah menisbatkan rezeki itu kepada diri-Nya, mengingatkan bahwa seluruh kemampuan manusia bekerja di dalam keluasan karunia dan ketetapan-Nya.